Artikel/Opini
Penulis: Shinta Purnama Sarie dan Enggar Paramita
Department of Foreign Affairs, Trade and Development Canada (DFATD), mengunjungi desa binaan AgFor Sulawesi di Bulukumba, Bantaeng, dan Jeneponto, Sulawesi Selatan Maret lalu. Lawatan yang berlangsung selama 3 hari bertujuan menilik perkembangan, sekaligus berdialog dengan para pihak yang terlibat dalam AgFor Sulawesi. “Proyek AgFor Sulawesi baru-baru ini melakukan perluasan ke wilayah baru yaitu Jeneponto dan Gowa. Sudah menjadi kewajiban kami di DFATD untuk berkunjung ke area proyek untuk memonitor pelaksanaan dan melihat kesesuaian implementasi dengan apa yang direncanakan,” kata Hari Basuki, perwakilan dari DFATD. “Selain itu kami juga ingin mendengar langsung masukkan-masukkan dari lapangan, dan juga memastikan proyek-proyek yang didukung oleh DFATD berjalan dengan harmonis," imbuhnya.
Di Bulukumba, rombongan DFATD bersama dengan mitra AgFor Sulawesi, Balang, dan Dinas Kehutanan dan Perkebunan mendiskusikan tentang perkembangan Peraturan Daerah (Perda) masyarakat adat Kajang menurut rencana akan difinalisasi pada bulan April. Sejak satu tahun terakhir, komponen tata kelola proyek AgFor Sulawesi telah... read more..
Pemahaman petani tentang aspek pemasaran seringkali masih terbatas. Di desa-desa binaan AgFor Sulawesi umumnya lingkup kegiatan pemasaran yang dilakukan petani baru sekedar menjual hasil komoditas kebun. Perlakuan tambahan seperti pemrosesan dan persiapan untuk meningkatkan nilai jual komoditas belum banyak dilakukan.
Selain itu, dalam memasarkan komoditas, petani banyak mengandalkan pedagang pengumpul yang datang ke desa ketika musim panen, sehingga petani tidak mengetahui harga pasaran yang sesungguhnya. Kondisi ini menyebabkan petani kehilangan kesempatan untuk memaksimalkan pendapatan dari komoditas yang dihasilkannya. Berangkat dari kenyataan ini, AgFor Sulawesi mencoba memfasilitasi peningkatan kapasitas di bidang pelatihan.
“Dari hasil baseline study yang dilakukan pada saat awal proyek, kami mengetahui bahwa rata-rata petani belum pernah mendapat pelatihan pemasaran. Kalau pun ada yang pernah, tapi itu sudah bertahun-tahun yang lalu,” kata Aulia Perdana,Marketing Specialist di World Agroforestry Centre. “Kami juga melihat petani seringkali tidak mengetahui konsep pasar sama sekali. Oleh karena itu, pelatihan pemasaran sangatlah penting agar... read more..
Penulis: Enggar Paramita
Dalam rangka meningkatkan kapasitas petani dan memfasilitasi pengembangan pembibitan petani menjadi komersial, AgFor Sulawesi mengadakan kunjungan lapang ke penangkar bibit tanaman holtikultura bersertifikat di Desa Matanggorai, Kecamatan Abuki, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada 24 Februari lalu.
Koordinator AgFor Sulawesi untuk Sulawesi Tenggara, Mahrizal menjelaskan bahwa selama dua tahun mendampingi petani di Kabupaten Konawe, AgFor Sulawesi telah menyebarluaskan pengetahuan tentang teknik perbanyakan tanaman, pengelolaan kebun yang baik, juga pembuatan pembibitan sederhana. “Kegiatan ini merupakan tindak lanjut atas keinginan beberapa petani yang ingin menjadi penangkar bibit komersial, selain salah satu upaya mensosialisasikan keberadaan penangkar bersertifikat di Konawe sebagai penyedia bibit unggul bagi petani, karena memang banyak dari petani yang belum mengetahuinya. ” kata Mahrizal.
Sejumlah petani kelompok binaan AgFor Sulawesi dari Kecamatan Besulutu, Lambuya, Uepai, Asinua, beserta UPTD Dinas Pertanian dan Peternakan, Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K), penyuluh, kepala desa,... read more..
Penulis: Enggar Paramita
Konsep sekolah lapang bukanlah hal baru di bidang pertanian Indonesia. Diperkenalkan tahun 1989 oleh Food and Agriculture Organization sebagai upaya pengendalian hama terpadu, sekolah lapang mengajak petani untuk belajar langsung di sawah, mengamati masalah dan penyebabnya, serta menganalisis perkembangan tanaman mereka. Pelaksanaan sekolah lapang selama bertahun-tahun di berbagai daerah di Indonesia dinilai berperan besar dalam membantu petani menekan penggunaan pestisida dan meningkatkan hasil panen.
Berbekal konsep tersebut, Endri Martini, Agroforestry Extension Specialist di World Agroforestry Centre (ICRAF) mencoba menerapkan hal serupa di desa-desa binaan AgFor Sulawesi. “Pada dasarnya saya telah membaca beberapa literatur tentang sekolah lapang ini, dan konsepnya menurut saya bagus. Bedanya kalau yang dulu pernah dilakukan terfokus pada satu jenis tanaman saja, sementara karena kita fokusnya agroforest, yaitu beragam jenis tanaman pada satu kebun, sehingga kita memfokuskan pada beberapa komoditas yang menjadi prioritas petani di desa-desa AgFor,” ungkap Endri.
Sekolah lapang agroforestri AgFor... read more..
Penulis: Hasantoha Adnan, Jhon Roy Sirait, La Ode Ali Said, dan Amir Mahmud
Madu merupakan salah satu komoditas hasil hutan yang memiliki banyak manfaat. Cairan kental berwarna cokelat keemasan ini dihasilkan oleh lebah madu (Apis dorsata) yang mengumpulkan nektar bunga dari berbagai tanaman. Tak hanya dikonsumsi langsung, madu juga digunakan sebagai campuran bahan makanan, minuman, dan sabun. Sarang madu akan menghasilkan lilin lebah (beeswax) yang dipakai untuk industri kecantikan dan obat-obatan.
Di beberapa tempat di Indonesia, madu adalah komoditas unggulan yang menyumbang pada peningkatan ekonomi masyarakat. Selain itu, madu juga menjadi bagian dari identitas sosial masyarakat adat, di mana banyak komunitas adat mempertahankan keberadaan hutannya melalui pengolahan madu yang lestari.
Daerah hulu Konaweha di Sulawesi Tenggara telah lama dikenal sebagai salah satu daerah penghasil madu hutan. Saat musim panen tiba, yakni di bulan November–Januari dan April–Mei, beribu-ribu kilogram madu dihasilkan dari hutan di daerah ini. Area penghasil madu meliputi Kecamatan Ueesi dan Uluiwoi di Kolaka Timur, serta Latoma, Asinua dan Abuki di Konawe.
Pemanenan madu umumnya masih... read more..
Penulis: Enggar Paramita
Setelah menghadirkan ahli merica dan cengkeh di desa-desa binaan, kali ini sekolah lapang agroforestri AgFor mengundang ahli kopi, kakao, dan durian untuk berbagi pengalaman dengan para petani di Sulawesi Selatan dan Tenggara.
Tahap penyebaran informasi peneliti ke petani diawali dengan mengundang Dr. Retno Hulupi dan Dr. Adi Prawoto dari Pusat Penelitian Kopi dan Kakao Indonesia pada Oktober 2013, dan Dr. Sobir dari Pusat Kajian Hortikultura Tropika Institut Pertanian Bogor pada bulan Februari 2014.
Dalam sekolah lapang kopi, Dr. Retno Hulupi mengetengahkan jenis-jenis varietas dan klon kopi, cara pemeliharaan, budi daya, pengendalian hama dan penyakit, serta penanganan pasca panen. Saat pelatihan, diketahui bahwa pengetahuan petani tentang jenis-jenis kopi seperti arabica, robusta, dan liberica masih belum memadai walaupun mereka telah menanam kopi selama bertahun-tahun. Tak hanya itu, kebiasaan memupuk dan memangkas pun belum lazim diaplikasikan. “Kopinya dibiarkan tumbuh tinggi saja dan bercabang-cabang, karena kita pikir, tidak apa-apa jika cabangnya banyak. Lalu dipupuknya juga sekali-sekali saja,” kata Amiruddin, petani kopi asal Desa Pattaneteang,... read more..
Penulis: Hendra Gunawan dan Shinta Purnama Sarie
Selama ini, ketersediaan benih pohon kayu terutama di Kabupaten Konawe dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terbilang masih bergantung dari pihak lain seperti lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Masih rendahnya pengetahuan petani mengenai benih dan teknik perbanyakan pohon kayu serta sulitnya akses untuk memperoleh benih berkualitas ditengarai menjadi penyebabnya. Padahal lewat kemandirian, petani akan dapat meningkatkan kualitas dalam bercocok tanam pohon kayu.
Berangkat dari kondisi ini, Department of Geosciences and Natural Resource (IGN), University of Copenhagen yang diwakili oleh Frans Harum bekerjasama dengan AgFor Sulawesi dan Operation Wallacea Terpadu (OWT) mengundang Ir. Djoko Iriantono, MSc, Kepala Balai Induk Benih Makassar untuk berbagi pengetahuan tentang identifikasi benih berkualitas, teknik penyemaian, teknik perbanyakan vegetatif, dan identifikasi sumber benih di lokasi tegakan benih lokal. Pelatihan yang diadakan pada 26–30 Mei 2014 ini dihadiri oleh para petani binaan AgFor di Konawe dan Kolaka Timur, rekan-rekan OWT, perwakilan dari Dinas Kehutanan dan Taman Nasional Rawa Aopa.
Pelatihan... read more..
Penulis: Enggar Paramita
Petani asal desa wilayah binaan baru AgFor Sulawesi mengunjungi Kelompok Tani Bersatu di Desa Lawonua, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara pada 11 September 2014 lalu. Lebih dari 30 petani asal 6 desa di Kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari berpartisipasi dalam kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan pemahaman tentang teknik pengelolaan kebun sekaligus memberikan peserta gambaran aktivitas proyek.
Dalam kegiatan kunjungan lapangan, AgFor menggandeng Mustakim, Agus, dan Hamsari untuk berperan sebagai fasilitator utama. Ketiganya adalah ‘champion’ atau petani penyuluh yang telah aktif berpartisipasi dalam kelompok tani binaan AgFor. Kepada para petani peserta kunjungan mereka berbagi cerita tentang pengalaman dengan AgFor Sulawesi. “Memang harus diakui bahwa pada awalnya agak berat, karena kita kerja lebih di pembibitan. Mungkin gara-gara hal ini, ada beberapa anggota yang berhenti dari kelompok, sebab berpikir kegiatan AgFor hanya menambah-nambah pekerjaan. Tapi sebenarnya kerja lebih itu hanya awalnya saja, karena setelahnya, pembibitan akan sangat bermanfaat bagi kita, jadi tempat belajar, dan juga dapat dijadikan sumber pendapatan,” jelas... read more..
Penulis: Shinta Purnama Sarie dan Enggar Paramita
Sebagai lanjutan dari serangkaian program komponen lingkungan AgFor Sulawesi yang berbasis metode Capacity Strengthening Approach to Vulnerability (CaSAVA), diskusi bertajuk ‘Lokakarya Prinsip dan Mekanisme Imbal Jasa Lingkungan’ diadakan di Fave Hotel, Makassar pada 17 Juli 2014. Lokakarya ini dihadiri oleh kelompok kerja (Pokja) imbal jasa lingkungan Daerah Aliran Sungai (DAS) Biang Loe, Bantaeng dan peneliti dari World Agroforestry Centre, Dr. Beria Leimona dan Dr. Atiek Widayati. Pokja terdiri dari pihak-pihak yang akan terlibat dalam penerapan skema pembayaran dan imbal jasa lingkungan (PIJL) di antaranya Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Daerah (Bapedalda), Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pertanian dan Peternakan, Universitas Hasanuddin, Yayasan Balang, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantaeng, petani, perwakilan dari kecamatan serta desa/kelurahan DAS Biang Loe, Badan Usaha Milik Desa (BumDes) atau Badan Usaha Milik Masyarakat (BumMas).
Lokakarya ini menyoroti salah satu visi dan misi kelompok desa yang telah disepakati pada pertemuan di bulan Desember 2013, yakni visi dan misi kelompok desa Eremerasa-... read more..
Penulis: Enggar Paramita dan Hasantoha Adnan
Memasuki bulan September, daerah hulu Sungai Konaweha di Sulawesi Tenggara mulai menggeliat. Di daerah penghasil madu hutan ini, ‘pasoema’ atau pemburu madu beserta para pengumpul bersiap menyambut kedatangan musim panen yang akan berlangsung selama bulan Oktober sampai Desember. Setiap tahunnya, puluhan ton madu hutan dipanen dari sarang-sarang yang terletak tinggi di atas pepohonan . Madu lalu dikemas dalam botol plastik, dan dijual ke berbagai daerah di Sulawesi Tenggara hingga Makassar.
Selama ini, pasoema dan pengumpul cenderung menghasilkan produk yang sama dengan para pesaingnya. Upaya peningkatan kualitas dan pengembangan produk belum dianggap sebagai faktor penting, padahal, keduanya adalah kunci dari peningkatan keunggulan usaha kecil.
AgFor Sulawesi mencoba menjawab persoalan ini dengan mengadakan lokakarya pemasaran yang melibatkan pasoema dan pengumpul madu asal Kecamatan Uluiwoi dan Uesi, Sulawesi Tenggara pada 25–28 Agustus 2014 di Desa Tawanga. Topik penilaian pasar secara cepat atau rapid market assessment (RMA) menjadi materi utama pelatihan yang digagas oleh komponen tata kelola (governance) dan mata... read more..