BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Memasyarakatkan Pohon Kayu di Sulawesi Tenggara

Penulis: Hendra Gunawan dan Shinta Purnama Sarie

Selama ini, ketersediaan benih pohon kayu terutama di Kabupaten Konawe dan Kolaka Timur, Sulawesi Tenggara terbilang masih bergantung dari pihak lain seperti lembaga pemerintah dan lembaga swadaya masyarakat. Masih rendahnya pengetahuan petani mengenai benih dan teknik perbanyakan pohon kayu serta sulitnya akses untuk memperoleh benih berkualitas ditengarai menjadi penyebabnya. Padahal lewat kemandirian, petani akan dapat meningkatkan kualitas dalam bercocok tanam pohon kayu.

Berangkat dari kondisi ini, Department of Geosciences and Natural Resource (IGN), University of Copenhagen yang diwakili oleh Frans Harum bekerjasama dengan AgFor Sulawesi dan Operation Wallacea Terpadu (OWT) mengundang Ir.  Djoko Iriantono, MSc, Kepala Balai Induk Benih Makassar untuk berbagi pengetahuan tentang identifikasi benih berkualitas, teknik penyemaian, teknik perbanyakan vegetatif, dan identifikasi sumber benih di lokasi tegakan benih lokal. Pelatihan yang diadakan pada 26–30 Mei 2014 ini dihadiri oleh para petani binaan AgFor di Konawe dan Kolaka Timur, rekan-rekan OWT, perwakilan dari Dinas Kehutanan dan Taman Nasional Rawa Aopa.

Pelatihan dimulai dengan presentasi cara mengidentifikasi benih berkualitas dan lokasi tegakannya (lokasi jenis pohon induk tersebut tumbuh). Identifikasi benih berkualitas dapat dilakukan dengan melabel setiap jenis benih yang memenuhi syarat. Ada 7 kriteria yang digunakan untuk mengetahui kualitas benih yaitu: 1) cocok dengan tempat penanaman; 2) merupakan hasil silang; 3) mewarisi sifat-sifat unggul dari induknya; 4) berkecambah tinggi; 5) bebas hama; 6) berdaya simpan lama; dan 7) dikumpulkan dari  pohon induk yang beragam dan tidak berkerabat. Sementara itu, identifikasi lokasi tegakan benih berkualitas dapat dilakukan dengan mencari lokasi di hutan alam yang  mudah diakses, bebas hama penyakit, serta memiliki kumpulan pohon 25–30 pohon dengan jarak tertentu antar pohonnya.

Setelah sesi pelatihan para peserta diajak untuk terjun langsung ke lapangan dengan mengunjungi lokasi tegakan tanaman dan calon kebun induk untuk pohon jati putih milik petani asal Kolaka Timur. Dalam kesempatan itu, peserta mempraktikkan cara memilih benih berkualitas unggul, mencoba teknik penyemaian dengan menabur benih berbagai pohon kayu dalam kotak tabur, dan menerapkan stek pucuk pada pohon kayu.

Bersama narasumber, para peserta pelatihan pun berdiskusi untuk menentukan sumber benih di lokasi tegakan. Lima calon lokasi tegakan benih kayu-kayuan berhasil diidentifikasi sepanjang pelatihan yakni hutan alam Andomosinggo, Lawonua, dan Lalomera di Konawe, hutan Hulu Lambuya di Wonuahua, dan hutan lindung dan hutan produksi di Asinua. Dalam pelatihan juga diketahui bahwa Sulawesi Tenggara telah memiliki tegakan benih pohon kayu-kayuan, yaitu indukan jati di Balai Perbenihan Tanaman Hutan (BPTH) Kecamatan Pondidaha.

Narasumber Ir.  Djoko Iriantono, MSc berharap agar para petani yang mengikuti pelatihan ini dapat melakukan pembibitan dengan pola mencari benih di hutan yang baik. Ia juga berharap agar peserta  mampu menularkan kebiasaan ini ke petani lainnya sehingga nantinya akan  timbul penangkar benih pohon kayu-kayuan berkualitas dari Sulawesi Tenggara yang sekaligus dapat membantu melestarikan pohon kayu lokal.

AgFor Sulawesi dan IGN University of Copenhagen berencana menindaklanjuti kegiatan ini dengan mengadakan pelatihan lanjutan tentang teknik pemangkasan dan pengunduhan benih di tegakan benih.