BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Artikel/Opini

Oleh Tommy Apriando, Yogyakarta Masyarakat pesisir, khususnya nelayan biasanya menggunakan pengetahuan tradisional sebagai panduan dalam kegiatan mereka di laut. Dari pengalaman turun temurun mereka telah dapat mempertimbangkan keadaan iklim, arus, migrasi burung-burung untuk menentukan tempat-tempat penangkapan ikan dan biota laut lainnya. Salah satu contoh pranata sosial dilakukan oleh masyarakat Teluk Tanah Merah, Depapre, Jayapura, Papua adalah tiyaitiki. Tiyaitiki adalah pengetahuan mengatur, mengelola, memanfaatkan dan melestarikan sumber daya laut dan pesisir dalam konteks lokal. Hal tersebut diungkapkan Puguh Sujarta dalam disertasinya berjudul “Sistem Konservasi Titaitiki Dengan Pendekatan Biologi di Perairan Teluk Tanah Merah, Depapre, Jayapura”. ”Penelitian ini mengkaji tentang pengetahuan tiyaitiki sebagai kearifan lokal dan kaidah sistem konservasi pada umumnya serta mengkaji peran serta masyarakat sekitar perairan Teluk Tanah Merah Depapre Jayapura dalam penerapan sistem konservasi tiyaitiki,” kata Puguh dalam ujian terbuka desertasi untuk meraih gelar doktornya di Fakultas Biologi Universitas Gajah Mada Yogyakarta pada Sabtu (28/02/ 2015) di UGM, Yogyakarta. Puguh... read more..
Oleh Wahyu Chandra Pagi itu, di halaman gedung berlantai empat, puluhan anak bersemangat memperagakan gerakan silat. Seorang guru memandu mereka. Setiap gerakan diikuti para murid. Begitulah salah satu aktivitas rutin di Rumah Sekolah Cendekia, terletak di Kelurahan Bontotangnga, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Ia sekolah alternatif, murid-murid tak wajib berseragam. Murid leluasa berinteraksi dengan guru dan bisa menanyakan apapun secara terbuka. “Di sekolah ini silat pelajaran wajib,” kata Ratna Juita, pembina sekaligus pendiri Cendekia kepada Mongabay, Jumat (6/2/15). Di sekolah yang terdiri dari playgroup, TK dan SD ini, para murid mendapatkan pelajaran agar dekat dengan alam. Sebagian besar kegiatan belajar di luar ruang, bermain sambil belajar. Mereka bebas bermain tanah ataupun air. Sekolah khusus menyiapkan fasilitas itu. “Bagi kami anak-anak tidak boleh lepas dari lingkungan sekitar, harus lebih dini diajarkan hidup harmonis dengan alam. Mereka harus mengenal becek-becek. Ada banyak permainan berkaitan dengan alam sekitar. Ada kebun tempat belajar bercocok tanam. Mereka bertani, memasak, membuat film hingga menjadi jurnalis,” katanya. Sebagai... read more..
Jayapura, Villagerspost.com – Cokelat bagi Drs. I Made Budi M.Si, peneliti dari Universitas Cendrawasih, Papua, menyimpan kisah tersendiri yang memberikan kesan sangat mendalam dalam hidupnya. Alkisah, suatu ketika Made sedang berkunjung ke salah satu daerah pedalaman Papua. Di tengah perjalanan, mendadak mobilnya dihentikan oleh sekelompok warga berpakaian adat dan bersenjata. Situasi seketika menjadi tegang, semua orang khawatir akan kesalamatan jiwa masing-masing. Hanya saja secara ajaib suasana mencekam mendadak cair ketika sang pemimpin kelompok warga itu menanyakan namanya. Begitu mendengar nama “Made”, sang pemimpin kelompok serta merta menurunkan senjatanya dan memeluknya. “Pak Made terima kasih sudah banyak ajarkan warga kami bertanam kakao, warga kami sangat senang bisa diajar Bapak, sekarang kakao-nya lebih bagus,” kata Made menirukan perkataan sang pemimpin kelompok. “Cokelat menyelamatkan nyawa saya,” kata Made. Keterlibatan Made dalam pengelolaan cokelat di Papua sendiri sebenarnya berawal dari keprihatinan yang sederhana. Dia prihatin karena petani kakao Papua belum pernah makan cokelat hasil kebunnya sendiri. Salah satu keprihatinan Made adalah karena petani Kakao... read more..
Jakarta, Villagerspost.com – Cekatan, tangan Ambarwati Esti mengulas krim di atas cake warna-warni itu. Cepat, ujung-ujung jarinya bergerak mengambil strawberry dan jeruk ditas cake yang sudah disusun bertumpuk rapi. Dalam sekejap, wanita yang sempat mengenyam pendidikan di jurusan hukum sudah selesai menghias rainbow cake yang dibuat saat itu juga. Selesai dengan rainbow cake, Ambarwati dan dua orang ibu binaannya beralih pada produk makanan yang lain. Dalam waktu singkat, bakpao isi durian, risoles, cake gulung, sudah siap dihidangkan. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari tampilan makanan-makanan itu, rasanya pun cenderung seperti apa adanya. Perbedaan mendasar dari makanan yang dibuat oleh ibu dua anak itu adalah bahan bakunya. Jika pada umumnya rainbow cake, cake gulung, risoles, atau bakpao menggunakan tepung gandum, maka makanan buatan CV Arum Ayu justru menggunakan tepung dari sumber pangan lokal, seperti singkong, ganyong, garut, sukun atau yang lain. Kreativitas membawa pangan lokal tidak hanya berwujud singkong atau ubi rebus tetapi justru tampil menjadi panganan modern. “Saya memulai ini atas dasar berbagi,” ujar Ambarwati dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.... read more..
"EVEN MORE BEAUTIFUL THAN WHAT BOOKS OR PEOPLE HAVE DESCRIBED" These are just some of the  words used by two current New Zealand ASEAN Scholarships[1] (NZ-AS) Awardees from Eastern Indonesia to describe their first impressions of New Zealand.  Jermi Haning, Director of BAPPEDA in Rote Ndao, NTT Province, is currently completing a PhD in Environmental Planning at Massey University, Palmerston North campus.  Cornelia Matani, a Lecturer Assistant at the School of Accounting at Cenderawasih University in Jayapura, is currently completing a Masters degree in Business Studies majoring in Accounting at Massey University's Auckland campus. Bhakti interviewed them recently to find out more about their experiences both in applying for a New Zealand ASEAN Scholarship as well living and studying in New Zealand. Deciding where to study:  Each of the Awardees approached this differently. Because Cornelia was planning to do a Masters degree in accounting by research, she first surveyed all the universities in New Zealand that offered this programme and then identified those that offered a masters by research. "I found that the University of Auckland, Massey University and... read more..
Could you tell us a bit about your background and your work at PEKKA? I am the head of an NGO called ‘PEKKA’, or ‘Female-headed Household Empowerment’, that aims to empower women in female-headed families. PEKKA was established in 2002. We grew out of the ‘Widows Project’ an initiative kick-started by the National Commission of Violence against Women (KOMNAS Perempuan) to document the lives of widows in conflict zones. We work with about 1300 women’s groups in 19 provinces across Indonesia to strengthen their position as active citizens in society. Why does PEKKA focus on women-headed families? Government data shows that there are an increasing number of female-headed families, currently around 14 per cent or about nine million households. However, in our own research, we found that one in four families is a female-headed family. These families tend to be the poorest of the poor, 60 per cent of the families tend to fall into the bottom two quintiles (40 per cent) of household incomes. Of these, 46 per cent of these women are illiterate, 20–60 years old and are responsible for two to seven family members. So when we compared our data with the government data, we... read more..
oleh Ekawati Liu and Lyla Brown At the heart of the Millennium Development Goals (MDGs) is poverty reduction and improved welfare for the world’s poorest people, measurable by social statistics. However, it is increasingly clear that progress in basic services aimed at malnutrition, education and income has bypassed persons with disabilities . As a result, world leaders have reaffirmed their commitment for the post-MDG era to leave no one behind , including people with disabilities. Indonesia’s commitment to ensure that people with disabilities are included in the country’s development is longstanding. The government ratified the Convention on the Right of Persons with Disabilities (CRPD) in 2011. Prior to that, it enacted Law No. 4/1997 on Disabled People and set a one per cent disability quota for companies with more than 100 employees. In 2014, Indonesia passed a law to ensure more humane treatment of people with mental illness and intellectual disabilities, outlawing the common practice of shackling . As of 2015, Indonesia has 17 laws that cite the rights of people with disabilities. Indonesia has approached disability inclusion as a cross-sectoral issue and enacted laws... read more..
Oleh Wahyu Chandra Tedong saleko atau kerbau dengan belang terbaik. Kulit didominasi warna putih pucat, dengan bercak atau belang hitam di sekujur tubuh. Harga jenis kerbau ini bisa mencapai Rp1 miliar, tergantung kondisi tanduk, belang dan ekor. Foto: Sharif Jimar Tedong saleko atau kerbau dengan belang terbaik. Kulit didominasi warna putih pucat, dengan bercak atau belang hitam di sekujur tubuh. Harga jenis kerbau ini bisa mencapai Rp1 miliar, tergantung kondisi tanduk, belang dan ekor. Foto: Sharif Jimar Bagi masyarakat Tana Toraja di Sulawesi Selatan (Sulsel), meyakini kerbau adalah kendaraan bagi arwah menuju Puya (dunia arwah, atau akhirat). Kerbau pun memiliki kedudukan unik bagi masyarakat Toraja. Ia diternakkan dan sebagai alat pembajak sawah, sekaligus dianggap hewan sakral dan simbol status sosial. Yoshafat, tokoh adat dari Tana Toraja, mengatakan, kerbau dinilai sesembahan tertinggi bagi masyarakat adat Toraja yang meninggal, melalui ritual rambu solo’. Rambu Solo’ ini dilakukan berhari-hari, bahkan ada berminggu-minggu, dan dihadiri ribuan warga. Salah satu ritual penting adalah penyembelihan kerbau. Dalam kepercayaan Aluk To Dolo, atau agama Toraja kuno, rambu solo’... read more..
Indonesia is estimated to have the largest geothermal potential in the world – 27,000 megawatts, or roughly 40 percent of total global geothermal resources. But currently, only 4 percent of that potential is being used to produce electricity. Even at the current level of development, however, Indonesia is the third largest geothermal producer in the world in terms of installed capacity, following the United States and the Philippines.Many countries around the world are taking a close look once again at geothermal as an energy source that can deliver a “triple win” – clean, reliable, locally sourced – power generation. As previously blogged, a key barrier faced by geothermal developers is raising funds necessary to implement the early, riskier stages of a geothermal project. In addition, countries such as Indonesia have abundant and cheap fossil fuel alternatives such as coal, which can cost less financially if the environmental and other benefits of a clean energy source such as geothermal are not taken into consideration. The World Bank has been working closely with the Government of Indonesia to help address these barriers and scale up the development of geothermal. The... read more..
Oleh Anton Muhajir, Bali   Tanah Lot, salah satu pusat wisata di Bali. Tiap hari 5.000-6.000 turis mengunjungi kawasan ini. Dengan cuaca pantai relatif panas, es kelapa muda jadi salah satu minuman paling laris. Tak pelak, per hari, sekitar 1.000 batok kelapa menjadi sampah di sini. Saat sepi turis, batok kelapa minimal 800 butir. Kalau ramai bisa 2.000 butir. Batok-batok itu dari ratusan pedagang dan puluhan restoran di Tanah Lot, Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Tabanan. Sampah batok kelapa menumpuk. Begitu juga jenis sampah lain. Per hari, sampah mencapai 9-10 kuintal. Jika sampah lain diangkut petugas DKP Tabanan ke tempat pembuangan akhir, tidak demikian batok kelapa. Semua dibiarkan. Pedagang-pedagang membuang begitu saja batok kelapa itu. Tidak ada yang mengolah. Melihat sampah menumpuk, warga didukung Yayasan Korpri Universitas Warmadewa, PT Aqua Investama Lestari, dan Pemerintah Tabanan, mengolah batok-batok kelapa itu menjadi bahan bakar briket. Warga tergabung dalam Gemaripah, sebuah komunitas pengelola sampah di Tanah Lot. “Kita harus berbuat sesuatu menangani sampah. Biar tidak saling menyalahkan,” kata Ketua Anak Agung Gede Oka Wisnumurti, Ketua... read more..

Pages