Artikel/Opini
Penulis: daeng iPul <ipul.ji@gmail.com>
Mobil Toyota Avanza yang kami tumpangi berhenti sejenak dan menepi. Saya dan Jeni- kawan yang menemani selama di Papua- turun sejenak meluruskan kaki. Kami menikmati air terjun kecil yang tumpah di sisi kiri jalan, di sebelah kanan pemandangan teluk Demta begitu menawan. Keindahan alam itu tak luput kami potret, lumayan menyegarkan setelah perjalanan panjang yang tak nyaman.
Hari itu kami berdua diantar seorang supir berdarah Flores menuju kampung Yaugapsa di distrik Demta, Kabupaten Jayapura. Jarak kampung Yaugapsa sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya sekira 120 km sebelah Timur kota Jayapura. Kira-kira sama dengan jarak kota Makassar ke Bantaeng. Bedanya, jarak sejauh itu harus kami lalui dengan susah payah karena jalanan yang tak beraspal.
Sepanjang jalan mobil bergoyang tidak karuan, seakan mengikuti irama dangdut yang mengalun dari tape mobil. Jalanan dipenuhi batuan dan tanah coklat. Beberapa jalan memang sudah diaspal halus dan lumayan nyaman dilewati, tapi hanya beberapa kilometer. Sisanya, rusak dan berbatu. Saya membayangkan sulitnya melewati jalan itu di musim hujan ketika tanah menjadi lebih basah dan licin.
Sekira 4 jam... read more..
Air Bersih NegerikuMinggu, 22 Maret 2015 07:25 WIBOleh Budi SetiawantoAir Bersih Negeriku
Jakarta (ANTARA News) - Apa yang terpikirkan tiap memperingati Hari Air Sedunia pada 22 Maret? Salah satunya pasti soal ketersediaan air bersih.
Apalagi Peringatan Air Sedunia (World Water Day) 2015 bertema "Air dan Pembangunan Berkelanjutan" (Water and Sustainable Development).
Hari Air Sedunia adalah sebuah kampanye global pentingnya air bagi kehidupan serta perlindungan dan pengelolaan sumber daya air secara berkelanjutan. Peringatan itu ditetapkan melalui Resolusi PBB Nomor 147/1993 dan mulai tahun itu diperingati per tahun di seluruh dunia.
Indonesia masih mengalami persoalan dalam ketersediaan air bersih. Sepanjang tahun banyak wilayah di Indonesia mengalami masalah ini.
Pada musim kemarau, sumber air menjadi kering sedangka pada musim penghujan di daerah-daerah yang mengalami banjir kerap mencemari air bersih.
Air bersih merupakan sumber daya berbasis air yang bermutu baik dan biasa dimanfaatkan oleh manusia untuk dikonsumsi atau untuk kegiatan sehari-hari.
Menurut badan dunia, UNICEF dan WHO, Indonesia masuk dalam 10 negara yang sebagian penduduknya tidak mempunyai akses ke sumber air... read more..
Kota CerdasHidup Layak di Kota BimaSiwi Yunita CahyaningrumIkon konten premium Cetak | 10 April 2015 Ikon jumlah hit 16 dibaca Ikon komentar 0 komentar
Tepat Jumat, 10 April ini, Kota Bima, Nusa Tenggara Barat, menginjak usia yang ke-13. Di usia dini itu, Bima mampu bertransformasi menjadi kota berkembang dan layak huni. Pantai Kolo, Teluk Bima, misalnya, sudah bertransformasi dari kawasan kumuh menjadi kawasan wisata ramah keluarga. Dari teluk itu bisa terlihat jelas Kota Bima.
Senyum Hasanudin (42) mengembang, hari itu, Senin (6/4) sore. Ia bebas menikmati liburannya di tepian Teluk Bima. "Dulu kami enggan kemari, isinya sampah tidak nyaman rasanya. Kini sudah lebih bersih dan sudah ada gazebo untuk duduk menikmati pantai. Anak-anak pun aman bermain di sini gratis kapan pun kami mau," kata Hasanudin yang membawa serta tiga anaknya bermain di pantai.
Seperti orangtua lain, Hasanudin menghabiskan waktu di pantai. Dari jauh ia memperhatikan anak-anaknya di pantai. Beberapa pemuda asyik mendengarkan musik sambil memandang Bima dari kejauhan.
Kota Bima dengan latar belakang pegunungan terlihat jelas dari bentangan teluk. Kota itu hanya dihiasi beberapa bangunan tinggi, tetapi di... read more..
TAMBORA MENYAPA DUNIATambora Menyapa Dunia: Saatnya Pariwisata Menjadi BerkahOLEH : NINUK M PAMBUDY, AGNES S PANDIA, KHAIRUL ANWARSiang | 2 April 2015 19:08 WIB
Ainun (40) pada Selasa (17/3) sekitar pukul 17.00 duduk santai di depan alat tenun gedogannya di teras toko koperasi Desa Sukarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Begitu melihat tamu mendekat, dia langsung memasang tali alat tenun di pinggangnya dan melanjutkan menenun songket corak subhanale.Puluhan ribu warga kota Dompu, Nusa Tenggara Barat, dengan mengenakan baju adat berpartisipasi dalam pawai budaya Tambora Menyapa Dunia, Rabu (1/4). Pawai budaya ini membuka rangkaian acara menyambut 200 tahun letusan Gunung Tambora. Gunung Tambora meletus pada April 1815, menyebabkan sekitar 71.000 orang meninggal dan suara dentumannya terdengar hingga Sumatera. KOMPAS/YUNIADHI AGUNGPuluhan ribu warga kota Dompu, Nusa Tenggara Barat, dengan mengenakan baju adat berpartisipasi dalam pawai budaya Tambora Menyapa Dunia, Rabu (1/4). Pawai budaya ini membuka rangkaian acara menyambut 200 tahun letusan Gunung Tambora. Gunung Tambora meletus pada April 1815, menyebabkan sekitar 71.000 orang meninggal dan suara dentumannya terdengar... read more..
Oleh Luna Vidya
Kehadiran Program KINERJA USAID di Papua adalah untuk meningkatkan penanganan isu-isu kesehatan ibu dan anak, serta HIV/AIDS dan tuberkulosis serta untuk merangsang permintaan yang lebih besar untuk layanan publik yang lebih baik.
Dalam perjalanan pelaksanaan Program KINERJA-USAID di Papua (2012-2015) ada beberapa inisitiaf yang lahir sebagai respon KINERJA-USAID Papua terhadap komunikasi yang terbangun terutama dengan Dinas Kesehatan Papua, Multi Stakeholder Forum (MSF) –semacam “Dewan Kesehatan” berbasis Puskesmas dan Bappeda. Beberapa dari inisiatif yang dapat disebut adalah pembuatan Log Book dokter PTT, perluasan sistem layanan penanganan korban kekerasan pada perempuan dan anak berbasis Puskesmas, juga fit and proper test untuk Kepala Puskesmas di Jayawijaya berdasarkan hasil studi kehadiran serta inisiatif pembentukan tim bimbingan teknis terpadu.
Log Book untuk Dokter PTT di Papua
Inisiatif pembuatan log book atau buku log dokter PTT Provinsi Papua berkembang dari keperdulian mengembangkan kualitas manajerial dan kepemimpinan dokter PTT –terutama mereka yang bertugas di pedalaman Papua, sehingga kehadiran mereka bukan sekedar... read more..
Jakarta, Villagerspost.com – Siang itu, sebuah kijang super melaju dengan kecepatan sedang, melintasi jalan aspal berliku di Majene, Sulawesi Barat. Di balik kemudi tampak seorang lelaki jangkung dengan rambut ikal yang mulai memutih. Aziil Anwar, begitulah nama yang diberikan oleh orang tua pria paruh baya itu.
Sambil sesekali bercanda, Aziil mengemudi dengan stabil menuju salah salah satu sekolah menengah pertama di Kabupaten Majene. Di sekolah tersebut, pria yang pernah meraih penghargaan pemuda pelopor pada tahun 1993 dari Presiden Soeharto itu langsung disambut dengan beberapa murid-murid yang antusias.
Sudah menjadi kebiasaan Aziil menjemput beberapa anak-anak sekolah untuk diajak mengunjungi tempat restorasi mangrove yang sudah dikelolanya sejak tahun 1990. Dia ingin terus berbagi informasi tentang manfaat mangrove dan tanggung jawab generasi mendatang untuk ikut menjaga benteng alam tersebut.
“Anak-anak sekolah itulah yang nantinya akan menggantikan saya dalam menjaga lingkungan di Desa Binanga,” kata Aziil dalam siaran pers yang diterima Villagerspost.com, Senin (16/2).
Mangrove memang menjadi hasrat Aziil sejak lama. Pada era 80 hingga 90an, sebagai... read more..
Pangkep, Villagerspost.com – Tangan-tangan anggota kelompok tani Pita Aksi dari Desa Pitusunggu, Kecamatan Ma’rang, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan tampak cekatan mencabuti tanaman-tanaman gulma pengganggu tanaman padi yang tumbuh liar di sawah. Dalam waktu singkat, petak sawah yang tengah mereka pesiangi itu sudah bebas dari gulma.
Pada prosesnya, tanaman-tanaman gulma penganggu itu, tidak dibuang begitu saja di pematang sawah. Tanaman-tanaman pengganggu itu ternyata masih bisa dimanfaatkan oleh para anggota kelompok Pita Aksi untuk dijadikan pupuk kompos organik untuk memupuk sawah-sawah mereka.
Setelah dicabuti, tanaman-tanaman itu kemudian dibawa oleh para anggota ke tempat pertemuan kelompok yang juga merupakan kediaman Sitti Rahmah dan suaminya Muh Arif yang memimpin kelompok Pita Aksi, untuk dicacah dengan menggunakan mesin pencacah bantuan dari pemerintah kabupaten setempat. “Bantuan mesin ini kami terima tahun 2013 lalu,” kata Arif kepada Villagerspost.com, Sabtu (7/3).
Sejurus kemudian, Arif mulai menyalakan mesin tersebut dan kemudian Rahmah bersama anggota kelompok lainnya, sibuk memasukkan gulma-gulma yang sudah dicabuti tadi ke mesin pencacah... read more..
Pangkep, Villagerspost.com – “Kelompok Usaha Rumput Laut Kalaroang”, demikian tulisan yang terpampang di sebuah rumah panggung berkelir dominan hijau muda. Saat Villagerspost.com berkunjung ke sana, Minggu (8/3) kemarin, di rumah yang juga kediaman sang pimpinan kelompok, Syarifah, tengah dihelat pertemuan antara anggota kelompok tani yang anggotanya kebanyakan adalah perempuan paruh baya yang sebagiannya sudah menjanda.
Mereka berkumpul untuk membicarakan berbagai program kelompok sekaligus bekerja mengikat bibit-bibit rumput laut yang siap untuk ditebar di laut dekat dermaga di Dusun Kekean, Desa Tamarupa, Kecamatan Mandalle, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. Kondisi pantai yang berupa tanah berlumpur sedikit menyulitkan Syarifah dan kelompoknya serta umumnya petani rumput laut di Desa Tamarupa untuk membiakkan rumput laut.
“Kami harus membiakkannya sekitar 50 meter-100 meter dari pantai ke arah sana yang airnya biru,” kata Syarifah kepada Villagerspost.com, sambil menunjuk ke arah barat dari tempat kami berdiri.
Situasi pantai di dekat dermaga Desa Tamarupa memang kurang begitu menggembirakan. Selain berlumpur saat air surut, barisan mangrove yang seharusnya... read more..
Oleh Wahyu Chandra, Makassar
Dulu, Rusman tak peduli dengan kegiatan istrinya di Kelompok Ujung Parappa. Ia kelompok ekonomi masyarakat Desa Ampekale, Kecamatan Bontoa, Maros, Sulawesi Selatan. Setelah melihat antusiasme anggota–sebagian besar ibu rumah tangga–begitu besar, Rusman tertarik. Mereka yang buta aksara mulai diajar membaca, menulis dan menghitung selama enam bulan. Kelompok ini perlahan menyentuh sektor produksi. Diawali membuat makanan ringan ‘Kacang Sembunyi’. Juga kerupuk kepiting, berbasis potensi lokal desa. Bersama istrinya, Habsiah dan warga lain, Rusman membangun kelompok ini. Kerupuk kepiting sempat jatuh bangun bahkan menurun tajam. Semangat anggota kelompok sempat melemah. Lalu, muncul gagasan usaha pengupasan kepiting.
Tak disangka, usaha ini berkembang pesat di luar dugaan. Pasar terbuka lebar langsung ke nelayan, memutus rantai distribusi. Dulu, lewat pengumpul (ponggawa), ke distributor kecil, distributor besar sebelum ke eksportir. Cerita Rusman ini satu dari 10 kisah inspirasi yang ditulis dalam buku berjudul “Sipadeccengi: Saling Membangun, Saling memperbaiki”, diterbitkan Oxfam melalui program Restoring Coastal Livelihood (RCL) di Sulsel. Pada... read more..
Penulis: Enggar Paramita
Setelah sepakat untuk berkolaborasi dalam bidang agroforestri, program Agroforestry and Forestry in Sulawesi (AgFor Sulawesi) dan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gorontalo mengukuhkan komitmennya lewat penandatanganan Nota Kesepahaman untuk meningkatkan kesejahteraan petani melalui pengelolaan agroforestri (kebun campur) dan kehutanan yang setara dan berkelanjutan.
Penandatanganan berlangsung di Hotel Limboto Indah, Limboto, Gorontalo, 6 November 2014, dan dihadiri oleh Asisten 2 Bupati Gorontalo, Hen Restu serta perwakilan dinas terkait. Dr James M. Roshetko, Senior Project Leader AgFor Sulawesi mengungkapkan bahwa dengan penandatanganan Nota Kesepahaman maka menyelaraskan kerja sama kedua pihak.
Asisten 2 Bupati Gorontalo, Hen Restu dalam pembukaan acara menjelaskan bahwa secara geografis, pertanian adalah salah satu sektor unggulan Kabupaten Gorontalo. “Akan tetapi masih banyak tantangan yang harus harus dicermati dan dicari solusinya, misalnya kualitas produk pertanian yang belum maksimal sehingga belum bisa diekspor, lalu cara-cara pengelolaan lahan pertanian yang selama ini dipraktikkan seringkali belum memperhatikan aspek lestari,... read more..