BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Artikel/Opini

Penangkapan ikan menggunakan bom dan sianida sudah dilarang di Indonesia sejak tahun 2004. Sayangnya, penegakan hukum yang lemah masih memungkinkan nelayan melakukan tindakan ilegal ini. Padahal, melindungi ekosistem kelautan dan tidak menggunakan cara-cara yang merusak lingkungan justru menjadi kepentingan nelayan. Sepanjang tahun 2016 hingga 2018, peran saya sebagai peneliti ekologi manusia LIPI membawa saya ikut serta dalam penelitian di Kabupaten Kepulauan Selayar, Sulawesi Selatan, yang merupakan bagian dari Coral Triangle atau Segitiga Terumbu Karang, sebuah kawasan perairan yang terbentang di enam negara di Asia Tenggara dan Pasifik dan terkenal memiliki terumbu karang yang beragam dan unik. Bersama tim CCRES, saya berkesempatan untuk tinggal bersama komunitas pesisir di tiga desa untuk mempelajari mengapa dan bagaimana sebuah komunitas nelayan di Indonesia berhenti menggunakan bahan peledak dan sianida untuk mendapatkan ikan. Penelitian kami menunjukkan bahwa beberapa individu yang sebelumnya menjalankan praktik perikanan yang merusak ternyata dapat bertransformasi menjadi pemimpin yang menginspirasi dan memengaruhi masyarakat untuk melindungi terumbu karang. Kami... read more..
Humoris . Itu kesan awal saat berjumpa dengan Adolof Andatu, Kepala Puskesmas Kombut, Kabupaten Boven Digul, Provinsi Papua. Sikap seperti itu jelas diperlukan untuk menghadapi segudang masalah yang dihadapinya sebagai orang nomor satu untuk urusan kesehatan di distrik yang sulit dijangkau itu. Masalah transportasi, itu yang pertama. Betapa tidak, Kombut adalah wilayah di perbatasan Indonesia dengan Papua Nugini. Jarak dari ibu kota kabupatan Boven Digul, Tanah Merah, memang hanya sekitar 70 km. Tapi butuh waktu sekitar lima jam dari Tanah Merah menuju wilayah Kombut. Itu jika jalan kering. Jika hujan datang, waktu tempuh bukan hanya bisa bertambah, bahkan rencana perjalanan harus ditunda karena risiko terlalu besar.  Sebagian jalan kondisinya buruk. Penuh lubang dalam dengan tanah liat khas Boven Digul yang bersejarah. Sekitar 20 km dari Tanah Merah jalan memang baik. Beraspal baik. Setelahnya, jalan berlubang dalam, berbatu dan beragam masalah lainnya. Jangan harap kita bisa sering berpapasan dengan mobil lain dari arah berlawanan. Di depan dan di belakang kendaraan yang kita pakai, jarang sekali kita lihat kendaraan. Hanya sedikit kendaraan yang lalu lalang di jalur Tanah... read more..
Saat ini geoportal Satu Peta hanya dapat diakses Presiden, Wakil Presiden, Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah tirto.id - Mariah Sukmariah, 64 tahun, berdiri di hadapan area persawahan yang terbentang di Karangdan, salah satu kampung di kaki Gunung Galunggung, Jawa Barat. Ia menuturkan, saat gunung terbesar di Tasikmalaya itu meletus pada 1982, nyaris seluruh lahan di sekitarnya tertimbun pasir dan abu vulkanik. “Masyarakat sempat kesulitan mengenali tanahnya sendiri. Setelah pasir dan abu itu dikeruk, untunglah aki (kakek) ingat beberapa batang pohon kelapa yang menandai batas-batas tanah miliknya dengan batas tanah milik tetangga,” kenangnya. Dalam lingkup kecil masyarakat Karangdan, persoalan sengketa lahan antara satu warga dengan warga lain dapat dihindari dengan adanya “kesepakatan tradisional” sebagaimana di atas. Namun ketika sengketa pemanfaatan lahan menghadapkan warga dengan institusi yang lebih besar, misalnya perusahaan atau lembaga pemerintah, tentu penyelesaiannya tak cukup dengan menunjuk batang kelapa. Berhadapan dengan institusi yang lebih besar sekelas korporasi maupun lembaga pemerintah, masyarakat berarti berhadapan dengan kuatnya modal dan kekuasaan.... read more..
Ketika pertama kali bertugas mengajar di Malaumkarta pada 1997, Distrik Makbon di Kabupaten Sorong, perempuan itu harus menghadapi banyak tantangan yang tidak mudah. Salah satunya ketika harus mendapati bahwa sekolahnya kosong. Anak-anak didiknya menghilang. Mereka ikut orang tua melakukan ‘siema’. Siema adalah mencari bahan makan pokok, utamanya sagu, yang dilakukan di dusun sagu. Waktunya bisa sangat panjang, antara dua minggu bahkan tak jarang sampai sebulan. Mendapati kenyataan seperti itu, perempuan bernama Bunga Wally itu memutuskan untuk ikut ‘siema’. Tujuannya jelas, yakni ingin tahu apa saja yang dikerjakan para muridnya selama ikut orang tua mereka melakukan ‘siema’. Di sana dia mendapati bahwa anak-anak yang masih kecil, yang duduk di kelas satu sampai tiga SD, sebetulnya hanya bermain-main saja. Sedangkan yang sudah agak besar, kelas empat ke atas, memang membantu orang tua mereka. Dari situlah Bunga kemudian melakukan pendekatan kepada para orang tua. Intinya, kalau bisa, karena anakanak kecil yang berusia kelas tiga ke bawah itu hanya bermain, sebaiknya lain kali tidak usah diajak. Biarkan mereka tetap sekolah dan belajar. Sebab usia mereka sebaiknya untuk belajar... read more..
Adolf Imbir menjadi Kepala Sekolah SD Matoa sejak tahun 2015. Bulan Oktober tahun 2018 ini, dia memasuki waktu purnatugas. Menjelang masa pensiun itu, dia bisa merasa lega karena merasa akhirnya telah bisa menambal beberapa kekurangan sekolah terutama dalam soal administrasi. Semua itu karena adanya beberapa kali pelatihan dan pendampingan yang dilakukan oleh Tim KOMPAK-LANDASAN II. Dia sebelumnya tak begitu mengerti soal administrasi dan manajemen sekolah. “Semua saya lakukan sesuai dengan apa yang saya ketahui selama ini. Ternyata tidak begitu tepat. Saya belajar banyak dan berusaha memperbaiki semua yang kurang, terutama menyangkut Standar Pelayanan Minimal (SPM) dan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS).” Adolf juga menekankan bahwa semua perubahan itu hendaknya dimulai dari niat. “Yang penting punya hati untuk berubah,” ucapnya. Sebab kalau tidak, biarpun ada banyak pelatihan dan pendampingan, semua akan percuma saja. Keinginan untuk berubah dan memberikan yang terbaik itulah yang membuat SD Matoa dengan cepat bisa berbenah. Dia dan dewan guru selain membenahi sistem administrasi dan manajemen juga memperbaiki sistem disiplin sekolah. Kebersihan juga menjadi prioritas, termasuk... read more..
    “Coba lihat di aplikasi ini, sekali klik, sudah bisa jadi surat.” Ucap Doni Wonombori, salah satu kader Sistem Administrasi dan Informasi Kampung (SAIK) saat sedang mempresentasikan aplikasi SAIK milik kampungnya. Doni adalah salah satu kader SAIK untuk Kampung Waharia, Distrik Teluk Kimi, Kabupaten Nabire, Provinsi Papua. Presentasi ini ditampilkan pada  kegiatan Roadshow dan Konsultasi untuk membangun Komitmen Pemda tentang Kebijakan Daerah, Mekanisme Kolaborasi untuk Perencanaan yang Terintegrasi di Kabupaten Nabire. Tampak para peserta yaitu perwakilan Organisasi Perangkat Daaerah (OPD) beserta jajarannya yang hadir di lokasi tersebut sangat antusias pada  presentasi yang ditampilkan oleh Doni. SAIK merupakan satu produk dari Program Landasan tahap I yang dibuat dalam rangka membangun kapasitas dan tata kelola kampung agar perencanaan kampung dapat lebih terarah sesuai dengan data kampung. Sebagaimana Doni,  SAIK ini dibuat sendiri oleh kader yang berasal dari kampung tersebut. Melalui program Landasan I, telah diintervensi sebanyak 16 kampung dalam menyelesaikan dan memutakhirkan sistem data kampung/SAIK. Di samping itu, terdapat pula peningkatan... read more..
Jalan Abreso Ransiki Manokwari Selatan (Mansel) Papua Barat tampak lengang, tak banyak kendaraan melaju. Suasana pagi cerah masyarakat beraktivitas seperti biasa, anak-anak berjalan kaki ke sekolah, ramai penjual sarapan, dan hiruk pikuk aktivitas di kompleks pemerintah daerah yang terletak di Distrik Ransiki ini mulai terlihat. Sebagai kabupaten yang baru berumur 7 tahun, Mansel tak bisa dipandang sebelah mata. Dari tahun ke tahun jumlah penduduk bertambah juga aktivitas perekonomiannya. Geliat inilah yang kini perlu direspons pemerintah daerah, yakni meningkatkan kualitas layanan dasar meliputi pendidikan, kesehatan, dan kependudukan. Sejak 2017, Landasan-Kompak sudah menyiapkan kapasitas di setiap unit layanan, yakni bidang pendidikan, kesehatan, dan kampung. Capaian program tersebut cukup signifikan antara lain keberadaan kader sebagai agen perubahan di kampung, tersedianya data dan sistem pendataan di kampung, kesadaran pemerintah tentang proses perencanaan kampung yang benar, pengetahuan Puskesmas tentang metode perencanaan berbasis kebutuhan dan permasalahan lokal, pengetahuan sekolah tentang perencanaan sekolah yang efektif, keberadaan Komite Sekolah dan kesadaran akan... read more..
Suhu siang itu di Kampung Margajaya cukup membuat gerah. Matahari seperti memanggang kampung transmigran di distrik Uwapa ini. Tidak begitu banyak pepohonan rindang yang tumbuh di tengah kampung. Di lahan-lahan kosong atau halaman masjid yang luas, rerumputan meranggas. Kampung mulai dimasuki transmigran pada tahun 1990, saat distrik Uwapa masih bagian dari Kabupaten Paniai. Letaknya berada di areal perbukitan, berjarak kurang lebih 33 kilometer dari ibukota Nabire, Provinsi Papua. Di sebuah rumah berbahan kayu dan batu, sebuah tim kerja sedang berdiskusi. Seorang laki-laki mengenakan topi korpri berwarna krem keemasan sedang memimpin pertemuan. Kadang ia berdiri menjelaskan sesuatu atau duduk memeriksa lembaran kertas yang dipegang oleh keenam perempuan dan seorang lelaki yang dipimpinnya. Mereka membahas satu kasus yang dihadapi kampung ini. Dari lembaran kertas itu, tertulis dengan huruf kapital, ‘Formulir Penyelidikan Kasus Malaria’. Ini adalah operasi gabungan dari berbagai Kader Kampung. Dua ibu mengenakan baju dinas puskesmas. Selebihnya berpakaian biasa. Mereka adalah Kader Posyandu, PKK, Kaur Kesra dan seorang Kader Kampung yang dilatih oleh Tim KOMPAK-LANDASAN II. Siang... read more..
  Hendrik Sayori adalah alumnus SD Inpres 62 Gaya Baru, Distrik Womi Waren, Manokwari Selatan, Papua Barat. Maka ketika dia menjabat sebagai Kepala Kampung, setiap kali melewati bangunan SD itu, selalu terlintas di kepalanya bagaimana dia bisa membantu tempatnya dulu menimba ilmu. Tapi semua itu buntu hingga kemudian ada pelatihan perencanaan kampung di kampungnya. Dari situ dia mulai berinteraksi dengan pihak sekolah yang sekarang dipimpin oleh Beatrix Flora Krey sebagai Kepala Sekolah.   Kondisi bangunan SD itu agak menyedihkan untuk sebuah bangunan yang terletak di jalan Trans Papua Manokwari-Bintuni. SD itu kekurangan satu bangunan, sehingga terpaksa kantor untuk para guru disekat menjadi dua. Sekat yang satu dijadikan kelas. Beatrix yang pada tahun 2015 diangkat menjadi Kepala Sekolah langsung mengambil inisiatif. Dia membangun semacam taman di bawah dua pohon mangga yang besar dan rindang. Taman itu bisa dijadikan kelas sekaligus tempat anak-anak membaca.   Ketika ditanya soal minat baca siswa, Beatrix menjawab tanpa raguragu, “Bagus sekali. Minat baca siswa sangat tinggi. Hanya kadang terkendala soal bahan bacaan saja.” Namun Beatrixcukup beruntung karena SD... read more..
National Geographic Indonesia - Kamis, 29 Agustus 2019 | 15:27 WIB Nationalgeographic.co.id - Umpatan nama binatang yang digunakan oknum anggota organisasi masyarakat (ormas) dan aparat untuk mengintimidasi mahasiswa Papua di Surabaya, Jawa Timur, selain melahirkan gelombang solidaritas #kamibukanmonyet, juga menyulut rusuh di berbagai kota di Indonesia. Peristiwa di Surabaya bukan kali pertama menimpa orang Papua. Sebelumnya sempat juga terjadi di Malang, Jawa Timur; Semarang, Jawa Tengah; dan Yogyakarta. Selain politis, sebagian musababnya soal sepele atau salah paham. Sikap terhadap kelompok orang yang berbeda ini cenderung mengarah pada penolakan atau bahkan kekerasan. Padahal menurut riset saya, orang Papua cenderung terbuka terhadap perbedaan. Masyarakat Indonesia banyak yang memiliki persepsi orang Papua sebagai orang yang sulit bergaul atau beradaptasi , dan persepsi ini yang menguat belakangan. Pola hidup sebagian orang Papua yang masih sederhana dikaitkan anggapan bahwa orang Papua sulit menghadapi perbedaan. Namun benarkah, demikian? Koroway yang lestari sekaligus terisolasi Pada 2017, saya bersama melakukan riset pada komunitas Koroway (Korowai) di Kampung Yafulfa,... read more..

Pages