BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Artikel/Opini

Australia-Indonesia relations had begun since the 17th century, even before European settlement of Australia. Trading contact was established between indigenous communities in Northern Australia and Makassare traders for trepang, or a type of sea cucumber which was considered as a high-valued commodity. The bilateral relations have since emerged, growing, and formalised with Australia’s full recognition of the independence of Indonesia in 1949. Today, the relations have continued to grow and flourished, encompassing a wide range of sectors from security, trade, culture, development, maritime, and so on. “No two neighbours anywhere in the world are as comprehensively unalike as Australia and Indonesia,” – Former Foreign Minister of Australia, Gareth Evans Despite its close proximity, the two countries will have to embrace a more strategic way, especially going into the 21st century that opens a new set of opportunities and challenges. The youth of both countries is becoming more invested to develop a deeper understanding for the future of the bilateral relationship. Progress and initiatives have been taken to invite participations from the new generation of Indonesia and Australia... read more..
Stephen Sherlock - 28 Aug, 2018 Indonesia’s parliaments—at the national and regional level—are repeatedly measured in opinion surveys as having amongst the lowest levels of trust of any public institution. Only political parties consistently rate lower than the parliament. The biggest single reason why the public views the parliament so negatively is usually perceptions of corruption. Most voters also report that they rarely, if at all, meet with a member of parliament from their electoral district. The parliament clearly has a major PR problem. Low ratings for legislative institutions are not unique to Indonesia. Politicians across the world in their parliamentary role are generally less well regarded than holders of executive office like prime ministers, presidents, and governors. But Indonesian parliamentarians don’t do themselves any favours by their manifest unwillingness to be seen in their constituencies, except perhaps at election time. The shopfront offices of the local member widely seen in Australia, or the MPs’ “surgeries” for public consultations that are a feature of UK politics, are completely absent in Indonesia. Some politicians will proudly tell a foreign... read more..
Menjaga Pegunungan Tambrauw, Ini Cerita Dua Perempuan Tangguh asal Momo Kaa oleh Een Irawan Putra * di 14 August 2018 Kaki-kaki lincah Mince Momo (40 tahun) dan Atafia Momo (22) menjejak masuk jauh ke dalam hutan. Berbekal keranjang anyaman buatan lokal yang tergantung di kepala, tak ada rasa takut saat menjelajah belantara. Bagi mereka hutan sudah seperti rumah kedua, tempat mengoleksi berbagai kebutuhan harian. Mulai dari mencari sagu, berburu, memancing ikan, dan mencari aneka sayuran hingga tumbuh-tumbuhan obat untuk menyembuhkan berbagai penyakit dapat dijumpai di dalam hutan adat marga Momo Kaa. Sehingga tidak ada alasan bagi mereka untuk tidak menjaga hutan. Mince memiliki tiga orang anak, sedang Atafia 2 anak yang semuanya saat ini masih balita. Mereka tinggal di Kampung Ayapokiar, Distrik Miyah, Kabupaten Tambrauw, Papua Barat di salah satu dari 19 unit rumah bantuan pemerintah. Menuju kampung tempat tinggal mereka lumayan jauh. Diperlukan perjalanan darat sekitar 6 jam dari Kota Manokwari, atau 8 jam dari Kota Sorong. Awal pertemuan saya dengan Mince dan Atafia berlangsung tak sengaja. Kami berada di Ayapokiar (29/7), bersama 12 mahasiswa Universitas Papua yang turut... read more..
Dana Desa Untuk Pelayanan Warga Di DesaAHMAD ERANI YUSTIKA Pelayanan publik merupakan istilah yang baru dibicarakan dua dekade ini secara intensif di tanah air. Pada masa sebelum tahun 2000-an, pemerintah memang telah merancang penyediaan layanan publik dengan segala cara, seperti air bersih, jalan, irigasi, kartu tanda penduduk, izin usaha, perpustakaan, dan masih banyak lagi. Namun, di samping jumlahnya yang masih terbatas, pelayanan publik itu tak menempatkan warga sebagai konstituen yang wajib dilayani dengan sehormat-hormatnya. Alih-alih, mesin birokrasi dan abdi negara lainnya menempatkan diri dan institusinya sebagai ningrat yang kedudukannya lebih tinggi dari warga. Konsep abdi negara sebagai pelayan tidak muncul dalam kesadaran relasi pemerintah dengan warga negara. Rakyat juga tidak memiliki kesadaran bahwa layanan publik prima merupakan hak yang melekat dalam hidup mereka. Formulanya: warga negara yang telah memenuhi segala kriteria regulasi wajib membayar pajak. Penerimaan negara dari pajak dipakai pemerintah untuk aneka belanja, seperti menyediakan layanan pendidikan kesehatan dan kesehatan, membangun infrastruktur, mengoperasikan usaha negara, program pemberdayaan,... read more..
Oleh: Tempo.co Senin, 30 Juli 2018 15:38 WIB INFO NASIONAL - Permasalahan pendidikan merupakan hal yang selalu menarik untuk diperbincangkan, apalagi masalah pemerataan pendidikan. Banyak asumsi yang menyatakan pendidikan wilayah Timur sangat jauh ketinggalan, ada juga yang mengatakan bahwa perhatian pemerintah dibidang pendidikan tidak berimbang untuk wilayah Timur dibanding wilayah lainnya. Pertanyaan yang muncul adalah “apakah pemerintah melalui Kemendikbud tidak  memperhatikan kualitas pendidikan di wilayah Timur?” Sebelum menjawab pertanyaan tersebut coba lihat beberapa kenyataan terkait dengan masalah rendahnya pendidikan di wilayah timur, salah satu yang menjadi masalah adalah rendahnya kualitas pendidikan di daerah terpencil, terutama di wilayah Indonesia bagian Timur. Salah satu contohnya adalah kondisi pendidikan di wilayah Papua. Di sana, perkembangan pendidikan masih sangat memprihatinkan. Rata-rata tingkat pendidikan masyarakat  Papua sangat rendah. Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jika lebih dari 50 persen anak-anak usia sekolah (3-19 tahun) tidak mendapatkan pendidikan di sekolah. Minimnya fasilitas pendidikan masih menjadi faktor utama.... read more..
Penulis: Petrus Supardi Asmat terkenal karena ukirannya memesona. Di atas hamparan sungai dan rawa, orang Asmat hidup berpindah-pindah dari satu bevak ke bevak lainnya. Mereka mengambil makanan yang tersedia di alam: sagu, ikan, kepiting, sayur dan berbagai jenis binatang seperti babi hutan dan kuskus. Sebagian besar wilayah Asmat diliputi rawa dan sungai. Apabila air pasang, maka seluruh permukaan tanah tergenang air. Kondisi tanah berlumpur sehingga usaha pertanian belum mengalami kemajuan. Sayur dan buah-buahan didatangkan dari Timika dan Merauke. Medan Asmat yang diliputi rawa-rawa dan sungai selalu menjadi tantangan bagi pembangunan di Kabupaten Asmat. Dunia pendidikan sebagai pusat transformasi sosial pun sedang redup. Belum banyak guru mau berinovasi "mengalahkan" tantangan alam dan geografis Asmat. Keluh kesah, rintihan dan berbagai alasan terlontar mengungkapkan ketidakberdayaan menghadapi manusia Asmat dengan budaya dan alamnya. Di tengah berbagai tantangan terebut, Romanus Meak, guru di SD YPPK St. Yohanes Pemandi, Yufri berinovasi. Ia membuka kebun pertanian di area sekolah. Luasnya mencapai 4 hektar. Ia menggali kolam-kolam berukuran besar. Tanah hasil galian,... read more..
Kepala Kampung Simini, Dorce Tojim merupakan perempuan Asmat pertama yang menjabat Kepala Kampung Simini di Kabupaten Asmat, 23 Mei 2018. Penulis: Petrus Supardi Asmat memiliki kekayaan sumber daya alam melimpah. Di atas hamparan lumpur dan hutan bakau, hidup manusia Asmat yang memiliki kebudayaan dan adat-istiadat yang unik. Lazimnya, ras melanesia, orang Asmat menganut budaya patrilineal. Laki-laki memiliki wewenang dalam urusan adat dan budaya. Harta benda dan kekuasaan diwariskan kepada laki-laki. Bahkan dalam tradisi Asmat, perempuan tidak sembarangan masuk ke dalam rumah adat (Jew). Sejak tahun 2002, Asmat menjadi kabupaten definitif. Asmat yang sebelumnya terisolir secara perlahan mulai mengalami kemajuan, terutama di bidang transportasi dan komunikasi. Saat ini, orang bisa dengan mudah ke Asmat menggunakan kapal Pelni dan pesawat terbang. Meskipun demikian, orang Asmat masih sama. Mereka hidup di gubuk-gubuk sederhana. Anak-anak Asmat tidak memperoleh pendidikan berkualitas. Demikian halnya, orang Asmat tidak memperoleh layanan kesehatan berkualitas. Kelompok paling rentan adalah perempuan Asmat. Para perempuan Asmat mengerjakan berbagai hal, baik di dalam rumah maupun... read more..
dr. Mia Rumateray: Totalitas Sang Dokter Terbang di Tanah Papua Oleh: Sylvie Tanaga Dokter Maria Louisa Rumateray (Dokter Mia) betul-betul total mengabdikan dirinya buat melayani orang-orang Papua. Selulus kuliah Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA), ia langsung kembali ke wilayah kelahirannya di Wamena, Papua. Tekadnya kembali ke pedalaman untuk melayani orang-orang Papua sudah bulat. Tanpa gentar ia jelajahi belantara Papua demi menyelamatkan mereka yang tinggal di titik-titik paling terpencil seperti suku Mairasi di Kaimana, suku Korowai di Yahukimo, dan masyarakat Kampung Karabura di pedalaman Wondama. Totalitas Dokter Mia tak main-main. Dua tahun silam, beberapa saat sebelum ayahnya dimakamkan, ia menerima telepon darurat. Seorang pilot memintanya segera mengudara untuk menolong seorang ibu yang tengah melahirkan bayi kembar. Seorang bayi meninggal, lainnya tertahan dalam perut karena terhalang plasenta. Terinspirasi ayahnya yang semasa hidup juga aktif melayani sebagai perawat, Dokter Mia memilih terbang –dengan risiko tak bisa ikut memakamkan ayahnya. Di sela kesibukannya menyelesaikan semester pendek di program studi Kajian Administrasi Rumah Sakit... read more..
Menyelamatkan Sumber Daya, Memberikan Pilihan Gizi bagi Masyarakat: Mengembalikan Lamun yang Mulai Menghilang dari Laut IndonesiaJumat, Juni 22, 2018 Tepat di bawah permukaan air di sepanjang 54,720 km garis pantai Indonesia, padang lamun hijau menghampar di bawah laut dangkal yang luas. Tapi tanaman itu bukan rumput laut - tanaman itu adalah lamun. Padang lamun menjaga laut agar tetap sehat dan produktif dengan menyediakan makanan, tempat berteduh dan berkembang biak bagi banyak jenis ikan dan kehidupan laut lainnya. “Tidak banyak orang yang mengerti lamun. Mereka pikir itu hanya rumput [dan] tidak punya fungsi,” demikian kata Rohani Ambo-Rappe, Dosen Universitas Hasanuddin di Makassar, Sulawesi. “ Tapi sebenarnya padang lamun adalah ekosistem yang produktif dan sangat penting.” Dua puluh persen lamun dunia tumbuh di dan sekitar perairan Indonesia. Hampir tiga juta rumah tangga di Indonesia bergantung pada laut untuk penghidupannya, dan padang lamun adalah kunci tersembunyi untuk kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi. Ketika lamun tumbuh subur, nelayan setempat mendapatkan akses yang mudah ke lahan perikanan yang subur, yang mendukung pendapatan dan pasokan makanan... read more..
Ancaman Sampah Plastik untuk Ekosistem Laut Harus Segera Dihentikan, Bagaimana Caranya?oleh M Ambari [Jakarta] di 26 July 2018 Sampah plastik hingga kini masih menjadi persoalan serius bagi Indonesia dan juga negara lain di dunia. Di Nusantara, sampah plastik tak hanya dijumpai di wilayah darat saja, tapi juga sudah menyebarluas ke wilayah laut yang luasnya mencapai dua pertiga dari total luas Indonesia. Semua pihak dihimbau untuk terus terlibat dalam penanganan sampah plastik yang ada di lautan. Koalisi Rakyat untuk Keadilan Perikanan (KIARA) mencatat, setiap tahun sedikitnya sebanyak 1,29 juta ton sampah dibuang ke sungai dan bermuara di lautan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 13.000 plastik mengapung di setiap kilometer persegi setiap tahunnya. Fakta tersebut menasbihkan Indonesia menjadi negara nomor dua di dunia dengan produksi sampah plastik terbanyak di lautan. Sekretaris Jenderal KIARA Susan Herawati mengatakan, semakin banyak sampah plastik di lautan, maka semakin besar ancaman bagi kelestarian ekosistem di laut. Meski ancaman kerusakan tak hanya berasal dari sampah plastik, tetapi dia tetap mengingatkan bahwa dampak yang ditimbulkan dari sampah plastik juga sangat... read more..

Pages