Artikel/Opini
Air Bersih untuk Warga Berkat Dana Desa
Membangun desa sendiri bukanlah hal baru. Ia kisah lama, bahkan teramat panjang bila direntang. Dana Desa dengan cepat naik ke panggung utama pembangunan.
Dana Desa jadi program idola karena beberapa perkara. Pertama, dana itu langsung diberikan ke desa, setelah ditransfer dari rekening pusat ke kabupaten. Kedua, desa jadi subyek. Program diputuskan oleh desa dan warga lewat musyawarah desa (Musdes). Otoritas desa penuh karena dijamin oleh UU Desa No. 6/2014. Ketiga, seluruh kegiatan mesti menghidupkan potensi lokal: orang, material, juga nilai (lokal).
Semangat keswadayaan dan swakelola yang dikejar. Singkat kata, dengan cepat gerakan pembangunan desa membuncah, aneka kreativitas meluap. Beruntung saya pernah mengawal program ini sejak tahun pertama.
Tiap desa punya cerita. Menjelang petang saya tiba di Desa Pa’bentengan Kabupaten Maros (Sulsel) hendak menyiapkan kedatangan Presiden (Pak Jokowi) yang ingin melihat pemanfaatan Dana Desa (2016). Kepala Desa (Kades) dengan semangat menceritakan kemajuan desanya. Dari mulai bangun jalan desa sampai pelatihan warga. Saya tentu juga senang dengan kisah bahagia tersebut.
Namun, di antara warta itu... read more..
Pada hari ini, Senin (9/7) Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution bersama dengan para menteri dan kepala lembaga terkait meresmikan penerapan Sistem Online Single Submission (OSS). Layanan Perizinan Berusaha Terintegrasi Secara Elektronik (PBTSE), yang lebih mudah disebut dengan nama generik OSS ini hadir dalam rangka pelayanan perizinan berusaha yang berlaku di semua Kementerian, Lembaga, dan Pemerintah Daerah di seluruh Indonesia, yang selama ini dilakukan melalui Perizinan Terpadu Satu Pintu (PTSP). Selain melalui PTSP, masyarakat dapat mengakses Sistem OSS secara daring di mana pun dan kapan pun.
“OSS yang pelaksanaannya diatur dalam PP Nomor 24 Tahun 2018, merupakan upaya pemerintah dalam menyederhanakan perizinan berusaha dan menciptakan model pelayanan perizinan terintegrasi yang cepat dan murah, serta memberi kepastian,” kata Darmin Nasution. Dengan sistem OSS, imbuh Darmin, “Izin berusaha akan didapat oleh pelaku usaha dalam waktu kurang dari satu jam.”
Hadir dalam peresmian sistem OSS ini antara lain Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo; Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso; Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo; Menteri Komunikasi... read more..
Dalam rapat kabinet pertengahan Maret lalu, Presiden Joko Widodo mendorong bank-bank agar berani mengucurkan pinjaman untuk pendidikan mahasiswa (student loan) guna mendongkrak kualitas sumber daya manusia dalam jangka panjang. Ide ini berpeluang mengentaskan anak-anak kurang mampu dari belenggu kemiskinan yang membelit keluarganya.
Usulan ini disambut dengan berbagai macam respons. Beberapa pihak skeptis dengan ide tersebut, termasuk Menteri Riset dan Pendidikan Tinggi M. Nasir. Salah satu argumen yang meragukan gagasan tersebut adalah adanya kekhawatiran pemberian pinjaman akan memperlambat ekonomi di Indonesia karena banyak sarjana yang lulus kuliah banyak yang gagal bayar utang seperti kasus pemberian student loan di Amerika Serikat.
Ketimpangan akses pendidikan tinggi
Sebelum lebih jauh membahas mengenai sistem pinjaman mahasiswa, kita terlebih dulu harus memahami adanya ketimpangan akses masyarakat terhadap pendidikan tinggi yang berpengaruh terhadap kesejahteraan.
Berdasarkan studi Hill dan Thee pada 2013, hanya 25% penduduk berusia 19-24 tahun yang menempuh pendidikan di perguruan tinggi di Indonesia.
Dari seluruh mahasiswa tersebut, 55% berasal dari kelompok ekonomi atas... read more..
Dua pekan lalu, Gubernur Nusa Tenggara Timur Frans Lebu Raya mengklaim bahwa angka gizi buruk di provinsi ini menurun sekitar 8,02% dari 3.340 anak usia di bawah lima tahun (balita) penderita gizi buruk pada 2015 menjadi 3.072 penderita pada 2016. Selain harus diperiksa lagi akurasi klaim tersebut, apa sebenarnya penyebab utama gizi buruk di provinsi kawasan timur Indonesia itu?
Apa itu gizi buruk dan gizi kurang
Kurang gizi ditandai dengan badan yang kurus, karena berat badannya kurang untuk anak seusianya. Terlepas dari masalah genetik, tubuh anak kurang gizi juga lebih pendek dibanding anak lain seusianya. Jika masalah kekurangan gizi ini tidak segera diatasi, anak akan mengalami masalah gizi buruk.
Sedangkan anak bergizi buruk lebih mudah terlihat karena gizi buruk ini sangat mempengaruhi fisik. Gizi buruk terdiri dua jenis yaitu marasmus dan kwasiorkor. Penderita marasmus ditandai dengan tubuh yang sangat kurus, sehingga tulang-tulangnya sangat menonjol. Ibaratnya, hanya tinggal tulang berbalut kulit saja. Sedangkan penderita kwasiorkor memiliki perut yang buncit dan kaki yang membengkak. Biasanya hal ini disebabkan karena anak kekurangan protein.
Prevalensi tinggi di NTT... read more..
Sembilan kunci untuk menciptakan SDG Country Platform di Indonesia
Oleh: Francine PickupDeputy Country Director, UNDP Indonesia
Tahukah anda Indonesia adalah negara paling dermawan kedua di dunia, dengan 79 persen orang telah memberikan sumbangan untuk zakat bulan lalu?
Zakat, sebuah sumbangan wajib tahunan berdasarkan hukum Islam, diperkirakan bernilai 16 miliar dolar AS di Indonesia. Ini sepertinya sangat besar, tapi jika setiap orang Muslim yang memenuhi syarat menyumbang 74 dolar setahun, angka itu bisa tercapai. Sekarang, hanya satu persen dari jumlah itu telah dikumpulkan.
Bersama dengan investasi swasta dalam negeri, yang menyumbang hampir separuh dari seluruh pembiayaan di Indonesia, ini merupakan potensi yang sangat besar untuk mendukung Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs). Dan ini menjadi pertimbangan utama untuk mengembangkan SDG Country Platform di Indonesia.
Rencana Strategis UNDP 2018-2021 menggagas Country Support Platforms untuk membantu negara-negara merancang dan memberikan solusi terintegrasi untuk SDGs. Platform ini membuka kolaborasi yang lebih luas sesuai dengan kebutuhan masing-masing pelaku.
Orang Indonesia adalah orang... read more..
Saling bunuh, saling bakar sampai... ’sayang kamu semua’: Mantan tentara anak Islam dan Kristen AmbonEndang Nurdin BBC Indonesia
27 Februari 2018
Ratusan anak diperkirakan terlibat dalam konflik paling berdarah Indonesia - Ambon- yang pecah pada 1999, terseret dalam arus kesadisan dan kebengisan perang.
Membunuh dengan berbagai senjata, parang sampai senjata api rakitan, membakar, mengebom, 'tanpa rasa (bersalah) apa-apa' sebagai 'mesin pembunuh', merupakan bagian hidup sehari-hari anak-anak berusia antara sembilan sampai belasan tahun saat itu, selama bertahun-tahun.
Kebencian membara atas nama agama - Islam, Kristen- membuat hidup mereka terkepung di lokasi konflik, dengan hanya satu tujuan "membunuh sebanyak-banyaknya lawan iman."
Pusaran konflik yang begitu dalam membawa mereka hanya pada dua pilihan: Dibunuh atau membunuh.
Dua di antara mereka, Ronald Regang dan Iskandar Slameth, menceritakan perjalanan mereka, berada di 'garis depan' saat konflik dan perjuangan berat menepis bara kebencian dan trauma mengingat orang-orang yang mereka bunuh dan kawan yang telah meninggal.
Keduanya pernah membunuh dengan alasan membela agama dan komunitas masing-masing.
Keduanya pernah disulut... read more..
Belajar dari nelayan Wakatobi: pengetahuan ekologi lokal bisa menyelamatkan dugong
Januari 10, 2018 5.56pm WIB
PenulisLeanne Cullen-Unsworth Research Fellow, Cardiff University Benjamin L. Jones Research Associate at the Sustainable Places Research Institute, Cardiff University Richard K.F. Unsworth Research Officer, Swansea University
Dari pengetahuan tentang tempat hewan hidup hingga jenis tumbuh-tumbuhan yang menyediakan manfaat medis, berbagai masyarakat di seluruh dunia memiliki tingkat pengetahuan ahli mengenai lingkungan hidup lokal mereka.
Secara umum, penyelidikan ilmiah memberikan informasi yang presisi dan terukur, dihimpun dalam waktu pendek. Tapi “pengetahuan ekologi lokal ” ini terbentuk dari pengamatan-pengamatan yang dihimpun dalam waktu yang sangat lama, yang sering kali diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan semacam itu bisa berupa hal-hal sederhana, seperti mengetahui tempat-tempat terbaik untuk menangkap ikan, bisa juga meliputi peristiwa-peristiwa yang langka atau ekstrem, seperti banjir atau periode cuaca buruk.
Bagi masyarakat pantai yang bergantung pada sumber daya lautan, akumulasi pengetahuan ekologi ini adalah kunci untuk... read more..
The faculty of fisheries and marine science of Khairun Ternate University in Ternate, Maluku, recently hosted a two-day seminar titled "National II Maritime and Utilization of Small Islands Resources".
Held on Oct. 24-25, the seminar aimed to support the government’s program in improving the tourism sector of Maluku.
“This seminar that talks about maritime and small islands is expected to come up with new development concepts by the end of the event,” said the seminar’s committee head, Imran Taeran.
The seminar was officiated by the university’s rector Husen Alting.
One of the keynote speakers, Prof. Rokhmin Dahuri, discussed about "Marine Development Roadmap to Increase Competitiveness and Standard Economic Growth towards Indonesia as the World’s Maritime Axis."
Meanwhile the second session had two speakers, namely human resources, science and technology and maritime culture coordination deputy Safri Burhanudin and Zulfikar Mocthar who represented the Maritime and Fisheries Ministry.
“Safri talks about the development of marine tourism, national salt industry, waste problem, renewable energy and the latest technology innovation,” said Imran.
The Tourism Ministry also sent... read more..
Pengelolaan hutan berbasis negara dan kelola masyarakat memiliki perbedaan pendekatan. Pengelolaan hutan negara memakai pendekatan berbasis tegakan hutan (sustained yield principle).
Karakter utama pendekatan ini, adalah pengelolaan terpadu bersifat parsial dari kelola ekosistem hutan. Ia bertujuan mengoptimalisasi aspek ekonomi, sosial dan ekologi (sustainable forest management).
Pendekatan ini, mengutamakan penguasaan lanskap ekosistem hutan yang bernilai dari tutupan hutan (kayu) sebagai sumber produksi kayu, non kayu dan jasa-jasa lingkungan melalui keputusan hukum dengan mengkategorikan hutan melalui penentuan kawasan hutan dengan skala luas, (Suhendang, 2013).
Sepenuhnya, pendekatan ini bergantung formalitas hukum sentralistik. Model ini, bertumpu pada pengelolaan lahan hutan skala luas dan tak diiringi kapasitas kelembagaan kuat. Hingga alat utama pengelolaan hutan bersumber dari izin sebagai satu-satunya alat kontrol dan akses terhadap hutan.
Pendekatan ini, terbukti lemah dalam mengontrol laju kerusakan hutan yang muncul dari pembalakan kayu dan pembukaan lahan (land clearing). Situasi ini diperparah lagi dengan tumpang tindih izin yang melahirkan... read more..
Bappeda (Badan Penelitian dan Perencanaan Pembangunan Daerah) Kota Parepare melakukan inovasi dalam proses perencanaan pembangunan dengan melaksanakan Musrenbang Perempuan dan juga Musrenbang Anak untuk pertama kalinya pada 1-2 Maret 2017 lalu, bertempat di rumah jabatan Walikota Parepare.
Musrenbang Perempuan yang dilaksanakan pada hari kedua, difasilitasi oleh Ibrahim Fattah dari YLP2EM, serta Ghufran H. Kordi dan Puspita Ratna Yanti dari Yayasan BaKTI. Peserta Musrenbang sebanyak 60 orang, terdiri dari organisasi perempuan, kelompok konstituen (KK), kelompok usaha perempuan, petani perempuan, nelayan perempuan, kelompok pengrajin, Unit PPA (Pelayanan Perempuan dan Anak) Polresta Parepare, wakil dari perempuan penyandang disabilitas, serta perencana organisasi perangkat daerah (OPD).
Dalam sambutan pembukaannya, Walikota Parepare Taufan Pawe, menyatakan bahwa, perempuan harus menjadi bagian yang mendorong kemajuan Kota Parepare. “Parepare akan dua kali lebih maju dan lebih baik, karena perempuan dan anak juga sudah dilibatkan dan terlibat dalam perencanaan pembangunan,” ungkap Taufan.
Ruang Perempuan
Pelaksanaan Musrenbang Perempuan dan Anak ini merupakan inovasi... read more..