Artikel/Opini
oleh Bernadinus Steni* di 29 June 2019
Salah satu aspek penting dalam perdagangan pala adalah peran perempuan. Studi INOBU-AKAPe sepanjang 2018 di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, menunjukkan sejumlah alasan faktual dan kebijakan pentingnya peran perempuan.
Tulisan ini hanya mengungkap sekilas masalah domestik yang dihadapi perempuan. Mulai partisipasi mereka dalam mata rantai pala, kebijakan pala sebagai tantangan pasar yang terkait dengan petani, pemerintah, maupun pemangku kepentingan.
Informasi yang disampaikan bukan sebagai generalisasi persoalan. Tetapi, mencerminkan situasi sekaligus mencari solusi.
**
Cerita mama
Banyak perempuan di Fakfak kawin muda. Tak terkecuali mereka yang orangtuanya memiliki kebun pala. Isunya bukan semata uang. Tetapi, tidak banyak keluarga yang menempatkan pendidikan sebagai pilihan untuk meningkatkan kesadaran, atau tangga menaikkan status sosial.
Setelah tamat SD, sebagian perempuan tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Opsi di kampung tidak banyak: selain bertani, berikutnya adalah menunggu waktu nikah. Alhasil, banyak yang memiliki anak di usia belia sekaligus menghadapi tugas ganda: sebagai ibu rumah tangga yang mengurus segala... read more..
National Geographic Indonesia - Senin, 24 Juni 2019 | 10:04 WIB
Nationalgeographic.co.id - Pagi itu terasa terik di Kampung Ayam, sebuah kampung di Distrik Akat, Kabupaten Asmat, dua jam perjalanan dengan longboat dari Agats. Kami berjalan ke arah timur menuju ke SD YPPK St Martinus De Porres, saat matahari berada tepat ada di depan kami, begitu menyilaukan.
Riuh rendah terdengar anak-anak bernyanyi, tidak terlalu jelas awalnya.
“Selamat datang kakak, selamat datang kakak, selamat datang kami ucapkan…”
“Selamat datang kakak, selamat datang kakak, selamat datang kami ucapkan...”
Puluhan siswa sekolah dasar menyambut kami pagi itu. Satu lagu pramuka yang kerap saya nyanyikan saat masih aktif di dalam kepengurusan organisasi tersebut. Entah mengapa, spontan air mata menetes jatuh. Mungkin karena sambutan yang begitu tulus dengan senyuman termanis dari mereka yang tidak bersepatu.
Kami datang untuk melihat Program Penyuluhan Gizi dan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang digagas oleh Pertamina Sehati bersana Dompet Dhuafa sebagai pelaksana.
Terlihat seorang wanita muda, begitu piawai memimpin jalannya kegiatan, dia memberikan penyuluhan. Gesturnya seperti warga setempat, tetapi... read more..
Posted on May 29, 2019 By Dr Leonardo Pegoraro
I recently took a three-day road trip in South Sulawesi with my senior AIC colleagues to deepen our awareness of the region ahead of our new four-year major research program, the Partnership for Australia-Indonesia Research (PAIR), which will be undertaken by a multi-disciplinary and bi-lateral team of researchers.
The trip formed a small part of PAIR’s preliminary scoping work, which looks at demographic and socio-economic characteristics, political variables, main actors and infrastructure development in South Sulawesi.
PAIR aims indeed to shed light on those communities – especially the young people among them – that will soon be impacted by a national infrastructure project currently underway: the railway line connecting the capital city, Makassar (once known as Ujung Pandang), to the city of Parepare.
On our way to Parepare from Makassar we visited some communities that live along the path of the new railway line, including in the regency of Pangkajene (Pangkep). The AIC’s Indonesia Director, and our trip planner, Kevin had arranged for us to stop in the small town of Segeri at the home of a bissu. This immediately captured our... read more..
Sumber
Papua dengan pesona alamnya kerap dijuluki “surga yang jatuh ke Bumi”. Berbagai aset pariwisata bertebaran di wilayah paling timur Indonesia itu. Meski demikian, Papua telah lama menyimpan masalah serius: angka buta huruf masyarakat Papua tertinggi di Indonesia.
Tak terkecuali dengan yang terjadi di Kampung Kobrey, Provinsi Papua Barat. Selain tingkat melek huruf yang rendah, kasus perkawinan anak juga sangat banyak. Demikian, ketika Risna Hasanudin menginjakkan kaki di sana lima tahun lalu, ia tahu ia punya pekerjaan mahaberat.
Mimpinya hanya satu: mencerdaskan anak-anak dan perempuan suku Arfak. Mereka tinggal di Pegunungan Arfak yang masih masuk wilayah Papua Barat. Yang ia temui di sana, anak-anak lebih suka bermain di hutan daripada masuk sekolah. Banyak anak akhirnya putus sekolah, dan beberapa menikah di usia dini.
"Kenapa saya memilih Papua, karena sejak kuliah sudah tertarik dengan isu-isu Papua," ujar Risna, Selasa (14/5).
Risna lantas mendirikan Rumah Cerdas Perempuan Arfak, rumah belajar yang diperuntukkan untuk kaum perempuan dan anak-anak di Papua Barat. Di sana, Risna mengajar membaca, menulis, dan berhitung. Semua kegiatan itu... read more..
oleh Mahmud Ichi [Morotai] di 15 May 2019
Yayasan A Liquid Future, mengajarkan anak-anak, seperti pengenalan dan pemahaman fungsi lingkungan, konservasi alam atau perlindungan sumberdaya hayati. Mereka juga belajar Bahasa Inggris, komputer, konsep turisme berkelanjutan, fotografi maupun jurnalisme warga.
Sekitar 1.200-an anak, usia tujuh sampai 16 tahun, ikut belajar di Yayasan A Liquid Future di Morotai, berasal dari berbagai desa.
Tujuan pendidikan ini agar anak–anak mendapatkan berbagai ilmu demi mempersiapkan mereka menghadapi Morotai sebagai tujuan wisata. Kala, wisatawan datang, tak hanya jadi penonton, mereka dapat jadi pihak yang terlibat dengan memiliki perspektif wisata berkelanjutan.
Muda mudi Morotai ini juga bisa menceritakan keindahan alam dan budaya sendiri kepada dunia luar melalui media sosial.
Mereka ini anak-anak yang ikut Yayasan A Liquid Future, sebuah lembaga nirlaba dari Inggris, yang bekerja mendampingi warga dan anak-anak lokal di Morotai. Di sebuah rumah sederhana tak jauh dari bibir pantai jadi base camp pelatihan dan pendampingan bagi anak-anak Morotai ini.
Hari itu, Dubes Amerika untuk Indonesia Joseph Donovan Jr dan rombongan, datang ke desa itu... read more..
Nelayan Kepiting Ini Merasakan Manfaat Rehabilitasi Mangroveoleh Wahyu Chandra [Maros] di 27 April 2019
Aksi menanam mangrove oleh ASCM (Aquatic Study Club Makassar) dan ACC (Aquaculture Celebes Community) dan dukung oleh WWF Indonesia, ditanggapi positif nelayan di Desa Bonto Bahari, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan
Beberapa tahun terakhir tangkapan kepiting nelayan mulai menurun. Ukurannya pun relatif kecil, sehingga banyak nelayan yang merantau ke tempat yang lebih jauh, yaitu di pulau-pulau yang ada di Kabupaten Pangkep.
Kabupaten Maros merupakan salah satu kabupaten di Sulsel yang melakukan konversi mangrove besar-besaran sejak tahun 60-an. Pemanfaatan hutan mangrove untuk usaha budidaya tambak telah mencapai lebih dari 50 persen pada tahun 1988.
Penanaman ini merupakan rangkaian agenda rehabilitasi kawasan pesisir WWF-Indonesia bersama PT. Bogatama Marinusa, yang didukung oleh JCCU. Total penanaman hingga 14 April 2019 ini sebesar 26.885 pohon, setengah dari target sebanyak 57.000 pohon.
Syarif (35), sedang duduk menunggu nelayan kepiting ketika sekitar 60-an anak muda menyusuri pesisir pantai yang berlumpur setinggi paha orang dewasa. Di kejauhan ia... read more..
Sartam, Petani Gorontalo Berpredikat Pejuang Lingkungan Internasionaloleh Christopel Paino [Gorontalo] di 6 May 2019
Sartam, petani dari Desa Puncak Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, yang berbatasan dengan kawasan hutan, dinobatkan sebagai BirdLife Nature’s Hero Award 2019 oleh Birdlife
International, sebuah lembaga konservasi yang berbasis di Cambridge, Inggris
Sartam adalah petani yang mempraktikkan pertanian ramah lingkungan dengan menerapkan kaidah konservasi, menghibahkan satu hektar kebun dan tanamannya kepada kawanan monyet yang oleh sebagian orang dianggap hama
Pemerintah Daerah Kabupaten Pohuwato juga memberikan penghargaan kepada Sartam dan ”Tani Kakao Mandiri”, sebuah kelompok tani yang menerapkan pola budidaya tanaman kakao berkelanjutan sebagai inspirator lingkungan
Masyarakat di Kabupaten Pohuwato adalah penghasil kakao dengan potensi pengembangan lahan sekitar 2.400 hektar
Seorang petani asal ujung barat Provinsi Gorontalo mendapatkan penghargaan dari lembaga internasional sebagai pejuang lingkungan.
Sartam, lelaki asal Desa Puncak Jaya, Kecamatan Taluditi, Kabupaten Pohuwato, kampung yang berbatasan dengan kawasan hutan, mendapat penghargaan... read more..
Maria Loretha, Sorgum, dan Kisah Pengorbanan Nyawa Tonu WujoNational Geographic Indonesia - Selasa, 26 Maret 2019 | 12:03 WIB
Nationalgeographic.co.id - Mendengar nama sorgum, tanaman yang kini mulai diminati oleh para petani di Flores Timur dan daerah Nusa Tenggara Timur lainnya, mungkin bagi sebagian orang menjadi pengingat perjuangan Maria Loretha.
Wanita berumur 46 tahun yang akrab dipanggil dengan sebutan Mama Sorgum ini dengan giat ingin membuat sorgum kembali menjadi panganan masyarakat lokal. Demi tujuan ini, ia rela menukarnya dengan keringant dan air mata.
Kerja kerasnya berkali-kali diganjar penghargaan pangan, baik tingkat lokal, nasional, maupun internasional.
Kesuksesan Mama Tata—sebutan lain untuk Maria Loretha—sebenarnya tidak terlepas dari ingatan kolektif masyarakat Flores Timur tentang legenda Tonu Wujo. Cerita ini berasal dari suku Lamaholot yang mendiami daratan Flores Timur, Pulau Adonara, Lembata sampai Alor.
Konon, dahulu kala ada seorang perempuan yang mengorbankan dirinya agar semua anggota keluarganya tidak mati kelaparan pada pertengahan musim kering hebat yang menimbulkan paceklik.
“Cerita Tonu Wujo ini macam-macam versi,” jelas Romo Benyamin Daud (44... read more..
Artikel ini dimuat ulang dari The Conversation Indonesia
Penulis: Palmira Permata BachtiarResearcher, SMERU Research Institute
Ketika membuka acara Jakarta Food Summit tahun lalu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengungkapkan kekhawatirannya mengenai penurunan jumlah petani yang dianggap dapat mengganggu produksi pangan kita.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) terbaru menunjukkan jumlah pekerja di sektor pertanian turun dari 35,9 juta orang atau sekitar 30% dari jumlah total pekerja pada tahun 2017 menjadi 35,7 juta atau sekitar 29% dari total pekerja di Indonesia pada tahun 2018.
Namun, penurunan proporsi petani bukanlah hal yang mengejutkan bagi negara yang ekonominya sedang bertumbuh. Data menunjukkan bahwa proporsi pekerja sektor pertanian di Malaysia jauh lebih kecil yaitu hanya 11%. Proporsi ini bahkan di bawah 2% untuk negara-negara maju seperti Amerika Serikat, Jerman dan Inggris.
Kontribusi pekerja sektor pertanian memang seharusnya berkurang seiring dengan berkurangnya kontribusi sektor pertanian dalam Produk Domestik Bruto (PDB). Jika tidak, tenaga kerja sektor pertanian akan berlebih dan menimbulkan masalah seperti produktivitas yang rendah, upah yang rendah serta kemiskinan... read more..
Artikel ini dimuat ulang dari The Conversation Indonesia
Penulis: Meiwita BudiharsanaLecturer, Faculty of Public Health, Universitas Indonesia
Ada keterputusan antara penelitian-penelitian yang dilakukan para peneliti kesehatan di Indonesia dan asupan hasil penelitian bagi perbaikan kebijakan kesehatan yang diinginkan pemerintah (perencana dan manajemen program) di negeri ini.
Dengan populasi lebih dari seperempat miliar jiwa, Indonesia menghadapi berbagai masalah kesehatan yang begitu banyak.
Di Papua, provinsi paling timur di Indonesia, beberapa laporan terbaru menyebutkan setidaknya 61 anak mati karena malnutrisi dan penyakit campak. Pemerintah sampai harus mengirim tenaga medis dan militer untuk menangani krisis kesehatan di area terpencil tersebut.
Di saat yang sama, Indonesia juga masih berjuang menghadapi tingginya tingkat kematian ibu dan bayi seputar masa kehamilan dan kelahiran. Indonesia gagal memenuhi sasaran Millennium Development Goal (MDG) mengurangi tiga per empat rasio kematian ibu, karena sampai 2015 masih ada 305 kematian dari 100.000 kelahiran hidup. Sementara itu, tingkat kematian bayi baru lahir adalah 14 per 1000 kelahiran hidup.
Dalam Rencana... read more..