BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Puluhan Peneliti UGM Dilibatkan untuk Penelitian Pengembangan Kawasan Rempah di Maluku Utara

Oleh REGINA RUKMORINI

Puluhan peneliti dilibatkan untuk membantu pengembangan kawasan rempah di Maluku Utara. Bebagai kajian akan dilakukan untuk mengembalikan kejayaan kisah rempah di masa lalu.

HALMAHERA UTARA, KOMPAS — Puluhan peneliti dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta dilibatkan dalam proses penelitian pengembangan kawasan rempah di Maluku Utara. Berasal dari berbagai fakultas, para peneliti akan melakukan riset, kajian di beragam bidang, untuk mengembalikan kejayaan rempah di kawasan tersebut di masa lalu.

Direktur Penelitian UGM Yogyakarta Mirwan Ushada mengatakan, para peneliti yang dilibatkan dalam beragam bidang itu, antara lain, dari sejarah, arkeologi, sosial humaniora, dan kedokteran.

”Dengan mengkajinya dalam beragam kajian, kami berharap bisa menguatkan ikon rempah sebagai komoditas yang terkait dengan tasty, healthy and beauty,” ujarnya.

Penelitian untuk pengembangan kawasan rempah secara resmi sudah dimulai sejak 2021, tetapi sebagian peneliti sudah mulai melakukan riset jauh sebelum itu. Saat ini, jumlah peneliti pun masih terus bertambah dengan bergabungnya banyak peneliti-peneliti muda.

Tahun ini, penelitian tersebut juga diintegrasikan dengan kegiatan KKN pembelajaran pemberdayaan masyarakat (PPM). Kolaborasi saat ini dilaksanakan di Kabupaten Halmahera Utara, salah satu daerah di Maluku Utara yang juga dikenal sebagai penghasil rempah pala.

Hasil inovasi yang didapatkan selama KKN nantinya akan dijadikan sebagai bagian dari bahan awal untuk melakukan penelitian lanjutan. Hasil dari KKN juga bisa langsung dimanfaatkan untuk masyarakat, dan sekaligus juga bisa dirumuskan sebagai materi bahan ajar kuliah yang berbasis riil.

Maluku Utara akan dikembangkan menjadi kawasan rempah berkonsep kosmopolis. Program pengembangan akan dilakukan dengan menggunakan tiga pendekatan, yaitu rekonstruksi, revitalisasi, dan inovasi.

Dengan semua pendekatan tersebut, nantinya akan dilakukan analisis, bagaimana menggabungkan kesenjangan yang terjadi antara kejayaan masa lalu dan kekayaan di masa kini. Selanjutnya, dari analisis tersebut barulah bisa dikembangkan inovasi tertentu yang sesuai dengan kebutuhan di masa kini.

Berbagai macam jenis rempah saja sudah menjadi penanda simbolik dari kebudayaan.

Peneliti dan juga dosen Ilmu Sejarah UGM, Sri Margana, mengatakan, perdagangan rempah awalnya dimulai dengan kedatangan para pedagang China di Maluku. Para pedagang ini kemudian memperkenalkan rempah ke kawasan Mediterania, dan akhirnya membuat sejumlah pedagang dari Eropa, termasuk Portugis, mulai berdatangan dan membeli langsung rempah dari warga.

Ketika itu, menurut Margana, rempah bernilai lebih mahal daripada emas. Di rumah-rumah warga Eropa, rempah yang sudah diramu menjadi bumbu masakan juga sengaja dipakai untuk menunjukkan status sosial mereka.

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan, Pengabdian Masyarakat, dan Alumni UGM Arie Sujito mengatakan, pengembangan kawasan rempah dilakukan agar rempah tidak melulu dianggap sebagai komoditas yang terkait dengan ekonomi semata. Rempah akan dikembangkan dikaji secara mendalam dalam berbagai aspek termasuk aspek kebudayaan dan ekologi.

”Berbagai macam jenis rempah saja sudah menjadi penanda simbolik dari kebudayaan,” ujarnya.

Sekretaris Daerah Halmahera Utara Erasmus J Papilaya mengatakan, salah satu jenis rempah yang terkenal dan menjadi komoditas unggulan di Kabupaten Halmahera Utara adalah pala. Namun, pemanfaatan pala belum optimal. Sebagian kecil warga sudah mulai mengolahnya menjadi minyak atsiri, tetapi mayoritas orang masih saja menjual pala setelah panen, langsung ke pedagang atau tengkulak.

Oleh karena itu, Kabupaten Halmahera Utara masih membutuhkan bantuan, kajian, riset-riset yang dapat membantu pengembangan pemanfaatan pala di masa depan.

”Kami sungguh berharap, di masa depan, pala bisa benar-benar berkontribusi memberikan pemasukan untuk Kabupaten Halmahera Utara,” ujarnya.

Editor:
SIWI YUNITA CAHYANINGRUM

Sumber: https://www.kompas.id/baca/nusantara/2023/08/03/puluhan-peneliti-ugm-dilibatkan-untuk-penelitian-pengembangan-kawasan-rempah-di-maluku-utara

 

Related-Area: