BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Artikel/Opini

Sebuah program khusus dari pemprov untuk orang asli Papua dengan memanfaatkan dana otonomi khusus (otsus) untuk mengatasi persoalan gizi buruk. Oleh Dini Hariyanti - Tim Riset dan Publikasi 30 November 2020, 11:30 Kendala geografis, keterbatasan anggaran, infrastruktur yang jauh dari memadai, hingga rendahnya kesadaran masyarakat atas kepemilikan dokumen kependudukan tak menyurutkan semangat untuk menggulirkan program Bangun Generasi dan Keluarga Papua Sejahtera (BANGGA Papua). Tiga tahun sejak diluncurkan, BANGGA Papua terus menghasilkan praktik baik untuk membuahkan generasi emas di Bumi Cendrawasih. Sebelumnya, sebagian orang tua di Papua kurang memperhatikan asupan bagi anak-anaknya sehingga anak-anak kurang sehat. “Sekarang, makanannya teratur sehingga anak jadi sehat. Dulu setengah mati (merawat kesehatan anak),” kata Antonius Choswomanan selaku Kepala Suku Semai di Kabupaten Asmat tentang BANGGA Papua. Pernyataan tersebut menggambarkan inti program ini, yakni program khusus pemprov untuk orang asli Papua dengan memanfaatkan dana otonomi khusus (otsus). Fokusnya, memberikan bekal kepada penduduk asli untuk mengatasi persoalan gizi buruk dan meningkatkan kesehatan anak-anak.... read more..
Dari pengetahuan tentang tempat hewan hidup hingga jenis tumbuh-tumbuhan yang menyediakan manfaat medis, berbagai masyarakat di seluruh dunia memiliki tingkat pengetahuan ahli mengenai lingkungan hidup lokal mereka. Secara umum, penyelidikan ilmiah memberikan informasi yang presisi dan terukur, dihimpun dalam waktu pendek. Tapi “pengetahuan ekologi lokal” ini terbentuk dari pengamatan-pengamatan yang dihimpun dalam waktu yang sangat lama, yang sering kali diwariskan dari generasi ke generasi. Pengetahuan semacam itu bisa berupa hal-hal sederhana, seperti mengetahui tempat-tempat terbaik untuk menangkap ikan, bisa juga meliputi peristiwa-peristiwa yang langka atau ekstrem, seperti banjir atau periode cuaca buruk. Bagi masyarakat pantai yang bergantung pada sumber daya lautan, akumulasi pengetahuan ekologi ini adalah kunci untuk mengumpulkan makanan dan menyambung penghidupan. Tapi pengetahuan ekologi masyarakat tidak mesti, dan memang tidak, berdiri terpisah dari sains. Pengetahuan itu sudah berulang kali “diuji” para ilmuwan, dan kini semakin diakui sebagai aset berharga dalam pengelolaan lingkungan dan biologi konservasi. Pada tahun-tahun belakangan, pengetahuan lebih... read more..
Pandemi COVID-19 telah membawa dampak sosial dan ekonomi yang serius di seluruh Indonesia, tanpa terkecuali perempuan dan anak perempuan. Bahkan, mereka lebih rentan dari kelompok lainnya. Melalui Webinar Series MAMPU “Perempuan dan Pandemi”, cerita-cerita mengenai dampak pandemi terhadap perempuan dan perjuangan mereka dalam mengatasi dampak pandemi diungkap dan didiskusikan dalam tiga sesi webinar yakni pada 16, 23, 30 Juli 2020 lalu. Dalam sambutannya, Kate Shanahan, Team Leader Program MAMPU menyatakan keinginannya agar webinar ini dapat menjadi wadah bagi perempuan di akar rumput dan lembaga non-pemerintah untuk berbagi perspektif dan pengalaman mereka terkait pandemi. Dan pengalaman mereka dapat langsung didengar oleh para pembuat kebijakan, baik di tingkat daerah maupun nasional. Kate Shanahan juga menambahkan, “MAMPU bersama mitranya selama pandemi terus melakukan kegiatan intervensi di lapangan dengan tetap memperhatikan kebutuhan perempuan dan kelompok rentan lainnya melalui pendekatan perspektif gender dan inklusif. Mitra MAMPU menguatkan pengorganisasian kelompok perempuan di desa, membangun ketahanan di komunitas dan melibatkan multi pihak dalam penanganan Covid-19.”... read more..
Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/ Bappenas bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, didukung oleh Program MAMPU, mengadakan konferensi nasional bertajuk “Sinergi dan Kolaborasi dalam Pencegahan Perkawinan Anak” pada 2 September 2020. Konferensi yang diselenggarakan secara daring ini bertujuan untuk menyampaikan informasi terkait Strategi Nasional Pencegahan Perkawinan Anak (Stranas PPA) kepada pemerintah daerah dan jaringan organisasi masyarakat sipil. Pembukaan konferensi dihadiri Aedan Whyatt – Counsellor (Kemiskinan dan Pembangunan Sosial), Kedutaan Besar Australia untuk Indonesia dan Subandi Sardjoko – Deputi Bidang Pembangunan Manusia, Masyarakat, dan Kebudayaan, Bappenas. Subandi menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor yang melibatkan institusi pemerintah dan non pemerintah dalam menjamin keberhasilan upaya penurunan angka perkawinan anak di Indonesia. Sesi pertama konferensi dibuka oleh Woro Srihastuti Sulistyaningrum – Direktur Keluarga, Perempuan, Anak, Pemuda, dan Olahraga, BAPPENAS, yang menyampaikan tentang masih tingginya perkawinan anak di Indonesia, yaitu sebesar 10,82% (2019). Angka ini diproyeksikan menurun menjadi... read more..
COVID-19 dan Ketidaksetaraan dalam Proses Belajar di Indonesia: Empat Cara untuk Menjembatani Kesenjangan DEEPALI GUPTANOVIANDRI NURLAILI KHAIRINA|AUGUST 19, 2020 “Kendala dalam mengajarkan anak saya adalah tidak adanya listrik dan usia saya, karena saya tidak bisa memahami pelajaran yang sulit, terutama karena saya petani. Seminggu sekali, para guru datang ke rumah sehingga mereka dapat mendidik dan mengajari anak-anak. Di desa lain biasanya mereka kesulitan untuk menemukan anak-anak, karena anak-anak ikut bersama orang tua mereka ke ladang.” – Sutil, yang tinggal di desa terpencil di Kalimantan Barat dan tidak memiliki akses internet maupun televisi. “Saya pikir tantangan saya adalah harus bergantian melakukan pekerjaan dan juga menjalankan tanggung jawab keluarga. Dan koneksi internet (yang buruk) membuat proses pembelajaran menjadi lebih sulit.” – Rosa, seorang guru di Bekasi yang putrinya bersekolah di sekolah swasta dan sedang menjalani pembelajaran online. Sejak bulan Maret 2020 para siswa, orangtua, dan guru di Indonesia harus menghadapi penutupan sekolah yang berdampak kepada 62,5 juta siswa, mulai dari tingkat pra-sekolah dasar hingga pendidikan... read more..
Gender dan pendidikan di Indonesia: Kemajuan yang masih membutuhkan kerja kerasNOAH YARROWRYTHIA AFKAR|DECEMBER 14, 2020 Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam mencapai kesetaraan gender selama satu dekade terakhir. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya tingkat literasi, angka partisipasi sekolah, dan ketenagakerjaan, serta kebijakan untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender. Pada tahun 1970-an, Gender Parity Index (GPI) untuk angka partisipasi sekolah (rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki yang terdaftar di sekolah) pada anak-anak usia 7-12 tahun adalah 0,89. Ini menunjukkan perbedaan signifikan yang memihak kepada anak laki-laki. Kesenjangan ini tampak lebih lebar seiring bertambahnya umur anak-anak. Namun, pada tahun 2019 Indonesia telah mencapai kesetaraan gender dalam hal partisipasi sekolah di tingkat nasional, dengan GPI 1,00 untuk angka partisipasi sekolah pada anak-anak usia 7-12 tahun. Sebuah studi yang dilakukan oleh Bank Dunia baru-baru ini, dengan dukungan dari Pemerintah Australia, terkait gender dalam pendidikan, menemukan bahwa meskipun rata-rata nasional telah mengalami peningkatan, berbagai perbedaan signifikan terjadi di... read more..
Gender dan pendidikan di Indonesia: Kemajuan yang masih membutuhkan kerja kerasNOAH YARROWRYTHIA AFKAR|DECEMBER 14, 2020 Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam mencapai kesetaraan gender selama satu dekade terakhir. Hal ini bisa dilihat dari meningkatnya tingkat literasi, angka partisipasi sekolah, dan ketenagakerjaan, serta kebijakan untuk mendorong terwujudnya masyarakat yang berkeadilan gender. Pada tahun 1970-an, Gender Parity Index (GPI) untuk angka partisipasi sekolah (rasio anak perempuan terhadap anak laki-laki yang terdaftar di sekolah) pada anak-anak usia 7-12 tahun adalah 0,89. Ini menunjukkan perbedaan signifikan yang memihak kepada anak laki-laki. Kesenjangan ini tampak lebih lebar seiring bertambahnya umur anak-anak. Namun, pada tahun 2019 Indonesia telah mencapai kesetaraan gender dalam hal partisipasi sekolah di tingkat nasional, dengan GPI 1,00 untuk angka partisipasi sekolah pada anak-anak usia 7-12 tahun. Sebuah studi yang dilakukan oleh Bank Dunia baru-baru ini, dengan dukungan dari Pemerintah Australia, terkait gender dalam pendidikan, menemukan bahwa meskipun rata-rata nasional telah mengalami peningkatan, berbagai perbedaan signifikan terjadi di... read more..
Semua Berawal dari Sebuah Pesan Agnes Alvionita untuk PUSKAPA Perjuangan berbagai lembaga nirlaba, aktivis, pemerintah, dan organisasi perlindungan anak dalam mewujudkan pencegahan perkawinan anak telah melewati jalan panjang yang penuh kerikil. Ditetapkannya UU no. 16 tahun 2019, yang mengatur batas usia perkawinan menjadi 19 tahun bagi laki-laki dan perempuan, seakan membawa angin sejuk dalam napas perjuangan ini. Perubahan batas usia perkawinan memang patut dirayakan mengingat kesulitan yang harus kita lalui untuk mencapainya. Lantas apakah perjuangan kita dalam mencegah perkawinan anak sudah selesai? Bagi saya, pencegahan perkawinan anak di Indonesia belum dapat dikatakan tuntas hanya dengan penetapan regulasi baru. Studi Pencegahan Perkawinan Anak yang dilakukan oleh PUSKAPA bersama BPS dan UNICEF (2020) menunjukan bahwa perkawinan anak didorong oleh banyak faktor lain di luar kebijakan struktural. Praktik perkawinan anak juga berkaitan erat dengan latar belakang pendidikan, kondisi ekonomi, lokasi tempat tinggal anak, dan pengaruh dari tradisi serta agama (PUSKAPA, 2020). Temuan ini menekankan bahwa regulasi saja tidak cukup untuk menekan angka perkawinan anak. Salah satu... read more..
ambahan pendapatan sebesar Rp350 triliun dari transaksi jual beli sertifikat emisi karbon. Potensi ini mendorong pemerintah untuk menyiapkan aturan tentang perdagangan karbon dalam bentuk Peraturan Presiden. Regulasi ini ditargetkan untuk selesai pada Agustus 2020 lalu. Namun, hingga kini belum juga diterbitkan dan tidak ada kejelasan mengapa tidak segera diterbitkan. Sebelum berbicara soal aturan terkait transaksi jual beli karbon, ada baiknya memahami apa itu perdagangan karbon dan manfaatnya bagi Indonesia. Jual beli emisi karbonPerdagangan karbon merupakan kegiatan jual beli sertifikat yang diberikan kepada negara yang berhasil mengurangi emisi karbon dari kegiatan mitigasi perubahan iklim. Perdagangan karbon (carbon trading) tidak jauh berbeda dengan transaksi jual beli yang dilakukan di pasar konvensional, yang berbeda adalah komoditas yang diperjualbelikan, yaitu emisi karbon. Pembeli emisi karbon biasanya negara maju dan industri besar, sementara penjualnya adalah negara berkembang dengan hutan yang luas sebagai penyerap karbon dioksida sebagai penjual sertifikat. Hutan menjadi sasaran utama karena fungsinya sebagai... read more..
 Sumber: https://static-cse.canva.com/image/20796/Presentation-Thumbnail.png Membuat slideshow memang mudah dan bisa diterapkan oleh siapa saja. Namun, sudahkah Anda tahu cara menciptakan hasil yang keren dan berbeda dengan video lain? Cari tahu di sini! Berdasarkan penjelasan resmi, slide show merupakan rangkaian gambar gerak yang ditujukan untuk berbagai macam keperluan. Namun sampai saat ini, slide show identik sebagai alat presentasi seperti kerja hingga tugas sekolah. Keseruan membuat slideshow biasanya berlangsung saat merancang tampilan visual sebebas mungkin menggunakan elemen yang ada. Baik deskripsi berupa teks, pemilihan font, dan bentuk unik lainnya, bisa Anda masukkan sesuai kebutuhan. Proses estetika membuat slideshow memang seru, tapi Anda juga mesti memikirkan informasi, ide, atau gagasan yang ingin disampaikan di dalamnya. Kadang, kita terjebak dalam kedua hal tersebut, sehingga hasil penggarapan slide show jadi tak seimbang. Bingung karena hari H presentasi semakin dekat? Buat Anda yang ingin membuat slideshow keren namun tetap informatif, ikuti cara ampuhnya sebagai berikut... Cara Membuat Slideshow Keren dan Informatif   Sumber: https://learn.canva.... read more..

Pages