BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Memahami Kemampuan Belajar Anak

                                                                        

Kemampuan belajar setiap anak berbeda-beda baik itu di desa maupun di kota. Anak juga memiliki gaya belajar berbeda, entah itu mereka dapat dari guru, orangtua ataupun orang-orang yang mereka idolakan. Di sini saya banyak belajar terutama tentang kemampuan belajar siswa di lima (5) desa yang saya kunjungi, dan saya paham ada banyak hal yang mempengaruhi ketidakmampuan anak mengikuti pelajaran di sekolah. Daya tangkap anak yang rendah, anak tidak fokus dan guru tidak memberi contoh pelajaran.

Pada Program KIAT Guru, kami dilatih untuk mengadakan Test Cepat Kemampuan Dasar Murid (TCKDM) yang tujuannya mengetahui secara cepat kemampuan dasar murid dalam Bahasa Indonesia dan Matematika setelah 1 semester berjalannya program rintisan KIAT Guru. Selama melakukan kegiatan di desa, hampir semua siswa memiliki masalah belajar yang sama, seperti kasus mata pelajaran Bahasa Indonesia: anak tidak mengenal huruf, saat ditanyakan kepada mereka huruf  q, d, b, i, mana yang huruf  q” yang bunyinya “ki”? mereka menunjukan huruf  ï  tapi ada beberapa siswa yang bisa menunjukan huruf yang benar. Setelah test selesai saya mencoba meminta beberapa siswa untuk menunggu sebentar terkait bunyi huruf tersebut, saya menuliskan huruf  q dan meminta mereka untuk menjawab huruf apa itu? Anak-anak spontan menjawab bawah itu adalah huruf “a”, lalu menuliskan kembali huruf q dengan gaya yang berbeda, saya menuliskan huruf q sesuai bentuk  dan satu lagi dengan ɋ yang memiliki ekor lalu mengubah bunyi huruf tersebut menjadi bunyi “kyu” lalu spontan anak menunjukan huruf ɋ yang berekor.

                                                                        

Selama melakukan test pelajaran Bahasa Indonesia, anak banyak tidak lancar membaca dan tidak paham isi bacaan sehingga jawaban dari setiap pertanyaan banyak yang salah. Dan untuk pelajaran Matematika, banyak anak tidak mengenal simbol matematika, seperti kasus 9 ÷ 3 =? jawaban anak rata-rata adalah enam (6), lalu mengubah tanda “÷” menjadi  9 : 3 = jawaban anak berubah menjadi tiga (3). Ini dilakukan tanpa mengubah jawaban siswa yang sebenarnya. Anak tidak bisa menghapal perkalian, saat soal perkalian anak menghitung dengan menggunakan hitungan lidi atau yang biasa mereka sebut “hitungan pagar”. Contoh 9 x 7 = untuk menjawab soal ini mereka harus membuat angka 7 berjumlah tujuh lidi, kemudian diturunkan kembali lagi berjumlah tujuh lidi-sampai 9 kali. Kemudian anak akan menghitung dari awal dan ini membuat banyak waktu terbuang untuk menjawab  satu (1) soal saja.  Ini bukan untuk perkalian saja tapi juga untuk soal penjumlahan dan pengurangan angkanya 2-3 digit,  mereka akan menghitungnya dengan menggunakan hitungan pagar.

Kemampuan yang dimiliki anak-anak di desa sangatlah berbeda jika dibandingkan dengan kemampuan anak-anak di kota. Kemampuan mereka sangatlah jarang dijumpai pada anak-anak di kota apalagi jika didukung dengan fasilitas yang lengkap, baik itu dari sekolah maupun dari rumah.

                                                                        

Saat melakukan pertemuan dengan guru, dengan orangtua, atau dengan kader dan beberapa KPL (Kelompok Pengguna Layanan) di beberapa desa, ini menjadi diskusi yang menyenangkan, karena mereka mengakui bahwa selama ini yang mereka pahami dan ketahui kalau bunyi huruf q adalah kyu bukan ki, begitu juga dengan bentuk tulisannya q yang biasa mereka tahu ɋ memiliki ekor sejak dulu itu sudah seperti itu bunyinya dan ini juga pengaruh dari guru-guru lama. Lalu saya menanyakan kembali, “Apakah Bapak/Ibu pernah melihat di buku-buku bacaan ada huruf q yang berekor? Mereka spontan menjawab, “tidak” Begitu juga dengan simbol Matematika “÷”, ini juga menjadi pembahasan bersama karena ada beberapa guru tidak mengenal simbol ini-yang mereka tahu tanda bagi hanya “:” Dan siswa juga tidak  paham dengan simbol seperti ini,  kemudian saya bertanya kepada mereka, “Apakah mereka memiliki Handphone (HP) atau kalkulator? Apakah simbol “:” ada? Saat ditanyakan beberapa orang tua dan guru melihat ternyata symbol “:” tidak ada, dan mereka menyadari bahwa yang dihadapi anak adalah buku, huruf, simbol, angka dan tanda bacaan, jika anak tidak memahami semua itu maka mereka bisa kehilangan kepercayaan diri saat mereka mulai beranjak dewasa.

Saya pernah membaca sebuah artikel seorang guru Matematika yang bertanya kepada siswanya tentang pendapat mereka apa itu Matematika bagi mereka. Dan ini menjadi salah satu pertanyaan yang digunakan oleh saya di setiap pertemuan anak setelah selesai Test Cepat untuk mengetahui pendapat mereka tentang pelajaran Matematika dan Bahasa Indonesia dengan menuliskannya di selembar kertas. Jawaban siswa itu kemudian ditempelkan di kertas plano. Kemudian saya membacanya dengan teliti dan rasa kangum saya pada tulisan-tulisan itu, di mana tulisan-tulisan itu menunjukan rasa tidak suka dan rasa suka mereka, dan mereka mempunyai alasan tersendiri saat menulisnya.

                                                                         

Ini adalah beberapa pendapat mereka tentang kedua mata pelajaran tersebut: Matematika itu bagi saya adalah mata pelajaran yang sulit karena banyak angka dan banyak rumus; Matematika yang paling sulit bagi saya adalah pem-bagi-an;  Bagi aku pelajaran Bahasa Indonesia itu sulit dan panjang bacaannya; Saya suka pelajaran Bahasa Indonesia karena enak mengerjakan soalnya. Mereka juga menuliskan harapan mereka kepada bapak/ibu guru dan orangtua  mereka agar mereka dapat mengerti dan memahami pelajaran-pelajaran itu, seperti : Guru mengajarkan untuk menghapal perkalian; Belajar berhitung dan menulis tegak bersambung: Guru harus membuat gambar perkalian; Guru dan orangtuaku mengajarkanku  belajar membaca.

Hal yang sering saya lakukan saat bertemu dengan siswa, saya akan menanyakan pertanyaan yang mungkin jarang ditanyakan kepada siswa. Saya pernah berjumpa dengan salah seorang siswa yang duduk dikelas 5 SD, saya tanya : “5 + 1 =?” Dia dengan cepat menjawab enam (6) kemudian saya memberikan pertanyaan lagi : “6 + 5=?” Dengan cepat dia langsung menjawab : “Sebelas (11) Kak.” Soal berikutnya saya berikan : “5 + 0=?” Dijawab : “Lima Kak,” Kalau “5 – 0 =?” Saya melihat dia kebingungan dalam menghitung jari-jarinya, kemudian dia menjawab: “0”kak. Saya bertanya juga kepada siswa SMP dan SMA sekedar mengetahui kemampuan mereka, berapa :  “10 – 0 =?” Ada yang menjawab benar 10, tapi ada yang menjawab 0. Salah satu siswa SMP yang saya test adalah Harianto, siswa yang sekarang duduk di kelas 3 SMP. Soal yang saya berikan : “97 x 6 =?” Ini tidak mudah baginya untuk menjawab dengan cepat selain tidak bisa menghapal perkalian dia juga harus dibantu teman-temannya untuk mengerjakan soal Matematika tersebut.

                                                                 

Banyak hal yang saya dapatkan selama saya ada diprogram KIAT Guru salah satunya saat memfasilitasi pertemuan dengan anak-anak di desa. Saat ditanya apa harapan mereka untuk guru-guru mereka, jawaban mereka cukup sederhana, seperti guru yang lucu, mudah tersenyum, yang bisa mendengarkan mereka, membuat mereka tertawa dan membuat mereka bisa memahami pelajaran-pelajaran disekolah dan tentunya gurunya sering datang kesekolah. Mereka juga tidak suka dengan guru yang galak; Guru yang suka melemparkan benda-benda yang ada di meja; Terlalu cepat marah pada siswa; dan takut pada guru yang suka memukul di kelas tanpa bertanya dulu siapa yang salah.

Perubaha sudah mulai mereka rasakan-baik itu dari guru maupun dari orangtua, seperti salah seorang anak dari Desa Paoh Concong menceritakan kepada orangtuanya bahwa ia sangat menyukai ibu gurunya yang sekarang, yang sudah tidak suka marah, tidak suka memukul siswa, dan PR diperiksa dan dinilai. Dia berharap ibu gurunya bisa menjadi Wali kelasnya lagi. Tak hanya dari sisi guru, anak juga melihat perubahan dari orangtuanya, seperti mendampingi mereka belajar; perlengkapan sekolah dilengkapi; dan mengantar jemput mereka ke sekolah.

Peran orangtua sangatlah dibutuhkan untuk mengatasi masalah ini. Mengenal dan memahami karakter anak akan membantu dan mempermudah orangtua untuk memberikan usulan atau janji layanan yang tepat dalam proses pengajaran di sekolah, seperti mengenalkan angka 0 dari dini, membiasakan anak menghitung penjumlahan dan pengurangan dengan angka 0, menghapal perkalian, dan membiasakan anak untuk membaca buku.

 

Penulis :

Voula Marlina Pasaribu

Fasilitator Masyarakat KIAT Guru Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat

 

AttachmentSize
voula-1.jpg87.61 KB
voula-5.jpg78.24 KB
Topik: 
field_vote: 
No votes yet