BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Komunitas Kakao Sulawesi Bersatu dan Beraksi dalam Menghadapi Ancaman Lingkungan Hidup Global

Penebangan kayu di kawasan hutan lindung dengan alasan alih fungsi lahan harus segera dikendalikan karena 65% total emisi gas rumah kaca yang terakumulasi di Indonesia diakibatkan tindakan deforestasi. Kerusakan ekosistem pantai yang lambat laun akibatnya akan dirasakan masyarakat pesisir; penanganan sampah serta polusi air dan tanah akibat penggunaaan bahan kimia di sektor pertanian yang salah, tercatat menjadi isu-isu lingkungan yang mengemuka selama dua kali penyelenggaraan lokakarya lingkungan.

Menyadari adanya ancaman lingkungan yang nyata, petani-petani kakao dari Sulawesi Barat dan Sulawesi Tengah berembuk dan bersepakat untuk membuat action plan yang dicanangkan hingga tahun 2017. Mereka tidak sendiri, rencana ini melibatkan juga pemerintah, sektor swasta, dan lembaga terkait lainnya.

Untuk ketiga kalinya,  pada tanggal 15 Desember di Kota Makassar Kemakmuran Hijau-Program Produksi Kakao Berkelanjutan (GP-SCPP) kembali memfasilitasi sebuah lokakarya lingkungan dengan dukungan penuh Pemerintah Sulawesi Selatan dan Cocoa Sustainability Partnership Indonesia (CSP). Lokakarya dengan tema ‘Lingkungan Lestari, Produksi Kakao Meningkat, dan Petani Sejahtera’  ini adalah bagian dari rangkaian acara yang mempertemukan para pemangku kepentingan sektor kakao dalam upaya untuk mempromosikan praktik-praktik berkelanjutan dalam sektor kakao di Indonesia dan berbagi hasil studi, pembelajaran mengenai kegiatan mitigasi perubahan iklim, dan memulai komitmen untuk rencana aksi bersama.

Lokakarya ini mengundang organisasi Wahana Advokasi Lingkungan Terpadu (WASLIT) dan Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH) regional Makassar untuk memaparkan temuan seputar isu-isu lingkungan dan situasi terkini di Sulawesi Selatan. Perwakilan para petani kakao akan pula mendapatkan kesempatan berharga untuk bertukar pendapat dengan organisasi Operation Wallacea Terpadu (OWT) dan Sulawesi Community Foundation.

Selama lima tahun terakhir, Program Produksi Kakao Berkelanjutan (Sustainable Cocoa Production Program/ SCPP) secara intensif telah melatih petani dalam Praktik Pertanian yang Baik (GAP), yang juga memperkenalkan petani mengenai Praktik Lingkungan yang Baik (GEP). Pelatihan GEP serta lokakarya lingkungan merupakan bagian dari pendekatan mitigasi yang diidentifikasi melalui Rencana Pengelolaan Lingkungan dan Sosial (RPLS) yang dilakukan oleh Swisscontact.

Perubahan iklim adalah isu global dan petani kakao turut terkena dampaknya,  sayangnya sebagian besar petani tidak menyadari bagaimana mereka bisa turut andil mengurangi emisi dan dampaknya di ladang mereka.

Swisscontact, didanai oleh Swiss Secretariat of Economic Affairs (SECO) bersama-sama dengan Millenium Challenge Account-Indonesia (MCA-Indonesia), yang di umumkan pada bulan April 2015 Kemakmuran Hijau - Program Produksi Kokoa Berkelanjutan (GP-SCPP), dengan tujuan menyeluruh untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dan kemiskinan di sektor kakao Indonesia.

“SCPP memiliki pendekatan tiga dimensi: People, Profit dan Planet (Sosial, Ekonomi, dan Lingkungan) karena kami memiliki perhatian terhadap kondisi iklim yang semakin memburuk yang disebabkan kurangnya praktik yang ramah lingkungan. Saya berharap lokakarya ini mampu menjadi wadah yang membangun kerangka untuk mengukur nilai-nilai konservasi dalam perkebunan kakao dan merencanakan upaya mitigasi kedepannya,” ungkap Manfred Borer, Country Director Swisscontact.

SCPP merupakan usaha kolaboratif antara sektor publik dan swasta dengan beberapa partner pelaksana program yang terdiri mulai dari sektor swasta dan organisasi non-profit. Program ini mengutamakan peningkatan pendapatan para petani kakao skala kecil hingga 75% dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang dihasilkan lewat perkebunan kakao hingga 30%. Progam ini tersebar di 29 kabupaten di 8 provinsi termasuk daerah-daerah utama penghasil kakao di Sulawesi dan Sumatera. Berdasarkan laporan Program hingga Juni 2016, 68.287 petani kakao skala kecil telah menerima pelatihan pertanian yang baik, yang mempromosikan peningkatan produksi melalui manajemen pertanian yang sesuai dan berkelanjutan.