BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Membawa Inovasi dari Afrika Barat ke Sulawesi

Penulis: Enggar Paramita

November 2013 lalu AgFor Bantaeng dan Kendari menerima kunjungan rekan World Agroforestry Centre (ICRAF) asal kantor regional Afrika Barat, Alain Tsobeng. Kedatangan Alain bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan memberikan pelatihan teknik perbanyakan vegetatif dengan menggunakan metode tanpa uap atau non-mist propagation.

“Melalui pelatihan ini kami bermaksud memperkenalkan sebuah teknologi yang efektif untuk mengembangbiakan jenis tanaman yang sulit diperbanyak dan tanaman berkualitas unggul. Kami juga ingin mengujicobakan teknologi ini dengan kondisi cuaca di Bantaeng dan Konawe,” kata James M. Roshetko, Senior Project Leader AgFor Sulawesi. “Rekan-rekan di ICRAF Afrika Barat telah berhasil mempopulerkan teknik ini ke petani, sehingga  menghadirkan Alain Tsobeng untuk melakukan pelatihan ini adalah hal yang tepat,” ujar James.

Teknik non-mist propagation adalah teknik pengembangbiakkan vegetatif yang digunakan untuk mengembangbiakkan tanaman yang sulit diperbanyak dengan cara umum seperti sambung pucuk, okulasi, maupun cangkok. Pada umumnya teknik ini menggunakan  propagator  berupa bak kayu yang dibungkus plastik, alat penyemprot air, pengatur suhu dan tenaga listrik. Agar penerapannya meluas termasuk daerah dengan fasilitas terbatas, dan meningkatkan adopsi oleh petani, teknik ini pun mengalami penyederhanaan.

Di Sulawesi Tenggara, pelatihan berlangsung di Desa Lawonua, Kecamatan Besulutu, Konawe dengan melibatkan tim AgFor Sulawesi di Kendari, kelompok tani binaan dari Lawonua, Wonuahua, Onembute, dan mitra lokal, Operation Wallacea Trust (OWT). Persiapan awal dilakukan dengan pengamatan sumber stek pucuk yang akan digunakan. Alain menyarankan stek diambil dari tanaman yang berada di sekitar desa agar dapat mengetahui tanaman lokal mana yang cocok diperbanyak dengan tekniknon-mist propagation. Setelah proses pengamatan, diputuskan bahwa stek yang digunakan adalah dari tanaman durian, kakao (cokelat), petai, karet, dan rambutan.

Selanjutnya, Alain bersama-sama dengan tim AgFor dan kelompok tani membuat propagator sederhana dengan menggunakan peralatan seperti rangka kayu, plastik sungkup, batu, kerikil, pasir, dan pipa.

Propagator yang telah dilapis plastik dilisi dengan media semai untuk stek pucuk. Media semai terdiri dari 3 lapisan yang berbeda: lapisan bawah media semai adalah pecahan batu agak besar (lebih dari 3 cm), lapisan tengah terdiri dari pecahan batu kerikil berukuran 2–3 cm, dan lapisan atas  yakni campuran pasir, tanah, dan serbuk gergaji. Pipa PVC ditambahkan di sisi bak kayu guna menyiram dan mengukur ketinggian air. Penggunaan plastik dan pengisian air melalui pipa PVC dalam propagator akan membantu penguapan dan mempertahankan kelembapan media tanam.

Peserta terlihat antusias ketika memotong stek pucuk dan menanamnya dalam bak media tanam. Pucuk tanaman yang digunakan dibedakan menjadi 2: yang diberi zat perangsang akar dengan yang tidak. Hal ini dilakukan untuk menguji coba perbedaan tingkat keberhasilan pada masing-masing stek pucuk.

Setelah stek pucuk ditanam, propagator ditutup, dan ditempatkan di bawah naungan.

Di Sulawesi Selatan, pelatihan dilakukan di Bantaeng, dihadiri oleh tim AgFor  Bantaeng dan perwakilan kelompok tani Campaga 1. Pagi hari sebelum pelatihan dimulai, tim AgFor mencari entres yang akan diujicobakan, dan memutuskan untuk menggunakan tanaman cengkeh, sirsak, pala, lengkeng, dan kemiri. Alain mengatakan bahwa pengambilan entres sebaiknya dilakukan pagi hari sebelum matahari terbit karena di pagi hari, tanaman masih segar. Selain pemilihan bagian tanaman, pemisahan bagian tanaman, dan proses aklimatisasi, waktu pengambilan entres juga berperan penting dalam menentukan keberhasilan stek untuk tumbuh.

Sahabuddin dari kelompok tani Campaga 1, Bantaeng mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan, “Cokelat kalau sampai berbuah dari benih itu butuh waktu lama, sekitar 1–2 tahun, sedangkan kalau dengan teknik ini, bisa lebih cepat tumbuh,” katanya.

Asep Suryadi, Agroforestry Specialist dari tim AgFor Bantaeng menambahkan bahwa teknik non-mist propagation dapat dikembangkan dengan mengujicobakan berbagai media tanah, untuk mengetahui kecocokan dengan kondisi di masing-masing daerah.

Pelatihan dengan dampingan Alain Tsobeng merupakan langkah awal untuk menyebarluaskan teknik non-mist propagation. Tim AgFor Bantaeng dan Kendari saat ini tengah melakukan pengamatan pertumbuhan stek pucuk yang telah diujicobakan, sambil mengidentifikasi serta mencoba jenis-jenis tanaman lain untuk melihat kecocokan dengan masing-masing daerah, sebelum memberikan pelatihan lebih luas ke kelompok tani binaan.

“Kami juga berharap agar teknik ini dapat membantu melestarikan jenis tanaman lokal yang sulit dikembangbiakkan dan terancam akibat penggunaan yang berlebihan, seperti contohnya kayu biti (Vitex cofassus) di Sulawesi Selatan,” jelas James.