BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Pohon Kenari Tua Penanda Kota Mataram

ISATA KOTA
Pohon Kenari Tua Penanda Kota Mataram
3 Februari 2016

Hujan semalam menyisakan butiran air yang bergulir jatuh dari rimbun dedaunan pohon kenari di kiri-kanan Jalan Langko dan Jalan Pejanggik, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, pada pagi hari. Beberapa pasangan suami-istri melenggang di atas trotoar yang melapisi akar pohon kenari itu. Beberapa pasangan yang tengah joging berhenti sejenak, mengusap batang pohon yang beberapa di antaranya ada yang berdiamater 2 meter.
Pohon kenari dan mahoni, selain menjadi paru-paru kota di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, juga membuat suasana teduh bagi para pengendara mobil, pengendara sepeda motor, dan pejalan kaki.
KOMPAS/KHAERUL ANWARPohon kenari dan mahoni, selain menjadi paru-paru kota di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat, juga membuat suasana teduh bagi para pengendara mobil, pengendara sepeda motor, dan pejalan kaki.

Pada siang hari, sepanjang jalan itu terasa sejuk dan teduh oleh rimbun daun pohon kenari dan pohon lain. Para pengguna jalan terlindungi terik sinar matahari. Pendatang akan terkesan dengan jalan protokol yang lurus dari depan Kantor Pos Mataram lama di Kecamatan Ampenan, sampai separuh Jalan Selaparang di Lingkungan Pajang, Kecamatan Mataram.

Menurut Totok Jendul, warga Mataram, bagi yang pernah tinggal di kota itu, hampir pasti meluangkan waktu jalan-jalan di bawah deretan pohon kenari. "Mereka bernostalgialah," katanya. Totok mengatakan, Jalan Pejanggik dan Jalan Pancawarga (dulu Jalan Lemuru) juga mencatat kenangan indah bagi warga kota seluas 6.130 hektar itu.

Jalan Pejanggik dan Jalan Pancawarga mengapit Lapangan Sangkareang sehingga lalu lalang orang dan kendaraan di Jalan Lemuru dapat dilihat dari Jalan Pejanggik, begitu pula sebaliknya. Tahun 1970-an, di jalan-jalan ini juga masih ditemukan tanaman mangga dan asam. Saat musim mangga, anak-anak melempar buah menggunakan batu. Apabila tepat sasaran, bocah-bocah itu adu cepat memburu buah yang jatuh akibat lemparan. Saat musim asam, warga kota mengumpulkan buahnya yang jatuh dari pohon.

Pohon kenari menjadi pusat perhatian karena jumlahnya dominan dibandingkan dengan tanaman pelindung lain. Ada pula nilai historis terkait dengan pemerintahan kolonial Belanda. Inilah yang mengundang kedatangan turis dari Negeri Kincir Angin itu ke Mataram tahun 1989. Rombongan bule londo ini datang setelah mendapat cerita dan membaca pustaka tentang Lombok di negara mereka.

Mereka ingin membuktikan kebenaran cerita tersebut. Mereka bukan saja senang melihat sebagian besar pohon kenari masih berdiri kokoh dan merekam dengan kamera video, tetapi juga sangat emosional. Seperti digambarkan Fathurrahman Zakaria dalam bukunya, Mozaik Budaya Orang Mataran, mereka menangis, memeluk pohon kenari.

Pemerhati budaya Sasak, Lombok, Ahmad YD, mengutip buku Memorie van Overgave, mengatakan, gagasan penanaman pohon kenari muncul pada tahun 1895 saat Van der Hoogt menjadi Kontelir Lombok Barat, yang meliputi wilayah Mataram. Karena itu, dilakukan penataan tata ruang kota, seperti adanya perimbangan ruang tertutup dan terbuka, taman, dan lainnya, dengan tujuan agar kota memiliki identitas.

Belakangan sisi kiri dan kanan jalan ditambahi tanaman pohon johar (Cassia seamea), beringin, dan tanaman lain.

Pemerintah Kota Mataram sangat melindungi pohon kenari tua yang saat ini berjumlah 60 batang melalui Peraturan Wali Kota Mataram Nomor 24 Tahun 2009 tentang Penataan Taman dan Dekorasi Kota. Peraturan itu diberlakukan demi kenyamanan dan keasrian serta terlindunginya pohon kenari. Pohon kenari dapat juga dijadikan sebagai bagian dari paket wisata kota.

Jalan-jalan di Mataram, selain dapat menikmati suasana adem dan rindangnya pepohonan, juga mendapat oleh-oleh cerita sekilas kota itu dari saksi bisu pohon-pohon kenari tua.

(KHAERUL ANWAR)

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2016/02/03/Pohon-Kenari-Tua-Penanda-Kota-Mataram

Related-Area: