BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Menanti Mandalika Bangkit dan Bersolek

WISATA
Menanti Mandalika Bangkit dan Bersolek
Runik Sri Astuti
Ikon konten premium Cetak | 9 Februari 2016 Ikon jumlah hit 152 dibaca Ikon komentar 0 komentar

Puluhan perahu berjajar di Pantai Serek, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/2). Sebagian nelayan pemilik perahu berteduh di bawah pohon dan sebagian duduk lesehan di hamparan pasir putih keemasan sekitar 100 meter dari bibir pantai.

KOMPAS/LASTI KURNIAGeladi resik seni pertunjukan yang menggabungkan seni kontemporer dan tradisi berlangsung di lokasi perayaan puncak Hari Pers Nasional di Pantai Kuta, Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, Senin (8/2). Pemberian penghargaan kepada sejumlah insan pers akan disampaikan langsung Presiden Joko Widodo, Selasa (9/2).

Herman (26), Mardian (33), dan Nonik (40), tiga di antara puluhan nelayan, sudah hampir empat bulan tak melaut karena hujan dan gelombang tinggi. Selama tak melaut, tak ada pula pekerjaan sampingan. Alhasil, tak ada pendapatan uang untuk keluarga.

"Sudah dua bulan dikejar terus oleh petugas bank karena tak bayar cicilan utang. Jangankan buat nyicil, buat makan sehari-hari saja susah. Sekolah tiga anak saya dibiayai pamannya," ujar Nonik, ayah empat anak.

Anak pertama Nonik sudah lulus SMA, tetapi belum bekerja. Berkali-kali melamar kerja di hotel dan resor di Mandalika, tetapi belum diterima. Kini dia bekerja serabutan. "Percuma sekolah sampai SMA, tetap tak bisa masuk kerja di hotel. Kalau mau diterima di hotel, katanya harus sekolah lagi ke perguruan tinggi. Uangnya dari mana," kata Nonik.

Nasib Herman dan Mardian hampir sama. Berbekal kartu anggota kelompok nelayan, mereka meminjam uang di Bank BRI untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, terutama makan. Namun, sudah dua bulan mereka menunggak cicilan karena tidak dapat melaut sehingga tidak ada penghasilan.

"Sekarang mau pinjam ke mana lagi? Perahu kami belum ada sertifikatnya. Rumah dan tanah yang ditinggali bukan milik sendiri. Kami, nelayan di Kuta, masih menumpang tinggal di tanah negara," kata Herman, Ketua Kelompok Nelayan Dusun Kuta Dua, Desa Kuta.

Kelompok Nelayan Kuta Dua memiliki 50 perahu yang dioperasikan lebih dari 200 nelayan. Ada perahu yang dioperasikan satu nelayan, tetapi ada juga perahu yang dioperasikan empat nelayan. "Kalaupun dapat pinjaman lagi, tetap tak mampu mengembalikan. Hanya menambah penderitaan karena beban semakin berat. Di musim panen ikan pun kami tetap tak ada hasil," ucap Herman, ayah dua anak.

Pada musim panen tongkol tahun lalu, harga ikan jatuh. Lima belas tongkol berukuran sedang hanya laku Rp 10.000. Saat musim paceklik, tongkol yang sama laku hingga Rp 6.000 per ekor. Jatuhnya harga ikan saat musim panen selalu berulang setiap tahun.

Menurut Siti (30), istri Mardian, dirinya dan istri nelayan lain biasanya melakukan pemindangan ikan untuk menahan harga agar tidak turun sekaligus menyiasati penurunan kualitas ikan karena tak ada mesin pendingin. Namun, usaha yang mereka lakukan tetap tak mampu menambah pendapatan nelayan.

Nelayan pernah mendapat pelatihan mengolah ikan menjadi abon. Namun, pelatihan itu berhenti di tataran teori. Nelayan tak punya dana untuk membeli alat, seperti penggorengan, oven, dan mesin pengering minyak.

Dilibatkan

Nelayan butuh alternatif pekerjaan dan harapan besar itu digantungkan pada industri pariwisata bahari Mandalika. Tentu dengan syarat, mereka dilibatkan, bukan ditinggalkan, apalagi disisihkan. Ketidakjelasan pembangunan sudah cukup membuat rakyat menderita.

Salah satunya Kiman (50), warga Dusun Sekar Kuning, Desa Kuta. Dia petani penggarap sawah di tanah pemerintah yang sudah dibebaskan kepemilikannya dari penduduk sejak 1987. Tanah itu dulu milik keluarganya, kemudian dibeli pemerintah untuk proyek Mandalika.

Namun, karena proyek tak kunjung dikerjakan, warga kembali menggarap tanah. Bahkan mereka juga tinggal di atas tanah telantar itu. Warga tak berani membangun rumah. Mereka mendirikan bangunan berdinding anyaman bambu dan membiarkan berlantai tanah karena takut digusur. "Dari menggarap sawah ini saya mendapat beras untuk makan keluarga. Setahun bisa ditanami dua kali, kadang satu kali saat kemarau panjang. Kadang bekerja serabutan," ucap Kiman.

Kehidupan masyarakat di kawasan wisata Mandalika sangat kontras dengan kecantikan pantai yang membentang dari Tanjung Aan hingga Kuta. Mandalika menjadi satu dari 10 destinasi unggulan pariwisata Indonesia. Sembilan lainnya adalah Danau Toba (Sumatera Utara, Kepulauan Seribu (DKI Jakarta), Bromo (Jawa Timur), Labuan Bajo (NTT), Yogyakarta, Wakatobi (Sulawesi Tenggara), Belitung (Bangka Belitung), Morotai (Maluku), dan Tanjung Lesung (Banten).

Mandalika punya potensi wisata bahari karena punya bentang pantai berpasir putih keemasan, ombak besar untuk selancar, tradisi mencari cacing nyale, dan legenda Putri Mandalika. Ditambah lagi potensi ekoturisme karena Mandalika memiliki kawasan hutan.

Pengelolaan Mandalika yang berwujud kawasan ekonomi khusus merupakan kelebihan dibandingkan destinasi unggulan lain. Di kawasan yang mencakup lahan seluas 1.035 hektar, atau tiga kali lipat luas dari Nusa Dua di Bali, itu mampu menampung 20 hotel bintang lima.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, pembangunan Mandalika diusulkan sejak 25 tahun lalu. Tahun 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meresmikan peletakan batu pertama pembangunan kawasan wisata Mandalika. Presiden Joko Widodo, April 2015, juga berkunjung untuk melihat langsung kawasan itu.

Pemerintah telah menyuntikkan dana Rp 250 miliar kepada pengelola dan berjanji menambah anggaran Rp 1,8 triliun untuk mendukung infrastruktur dan menarik investor masuk.

Selasa (9/2) ini, Presiden kembali berkunjung ke Mandalika untuk menghadiri acara puncak Hari Pers Nasional 2016. Kunjungan kali ini diharapkan mampu mendorong Mandalika segera bangkit dan bersolek, menyambut wisatawan lokal dan mancanegara.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2016/02/09/Menanti-Mandalika-Bangkit-dan-Bersolek

Related-Area: