BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Geliat Manado Jadi Kota MICE

Pertumbuhan Kota
Geliat Manado Jadi Kota MICE

LIMA tahun ini Kota Manado berbenah. Berbekal keindahan alam dan kekayaan kuliner, ibu kota Sulawesi Utara ini mulai menggarap pasar untuk kebutuhan rapat, insentif, konvensi, dan pameran (MICE). Akomodasi skala besar disediakan. Sejumlah fasilitas umum ditambahkan.

Geliat Manado dimulai sejak penyelenggaraan Konferensi Kelautan Sedunia (World Ocean Conference/WOC) pada 11-15 Mei 2009. Untuk mengakomodasi ribuan peserta konferensi, sejumlah hotel dan tempat pertemuan skala besar mulai didirikan di kota ini. Tidak hanya itu, pembangunan infrastruktur berupa pelebaran dan pengaspalan jalan dari Bandara Sam Ratulangi hingga pusat Kota Manado dilakukan.

Meski sudah lima tahun berlalu, jejak perbaikan infrastruktur dan akomodasi di kota ini masih tersisa. Pembangunan lanjutan juga dilakukan untuk memudahkan koneksi Manado dan titik-titik vital di Sulawesi Utara.

Direktur Eksekutif Badan Pariwisata Sulawesi Utara Widijanto mengatakan, persaingan sebagai kota MICE sangat ketat di dunia internasional. Selama ini, Indonesia mengandalkan Bali sebagai kota tujuan MICE. Baru setelah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk Manado sebagai tuan rumah WOC 2009, ada alternatif kota MICE.

”Banyak kota di dunia yang terus memperbaiki pariwisata untuk mendukung MICE. Mereka juga agresif menjual MICE. Ini yang masih perlu kita tingkatkan,” katanya, pertengahan November lalu.

Widijanto mengatakan, agresivitas dan semangat untuk memasarkan kota sebagai tujuan MICE menjadi salah satu kunci memenangkan persaingan MICE. Sejumlah kota menyodorkan slogan pariwisata dan mengemas paket wisata dengan MICE.

Dengan kerja sama pihak swasta, penambahan hotel dan tempat pertemuan berskala besar diwujudkan.

PT Aneka Kimia Raya (AKR) Land Development, misalnya, membangun tempat konvensi yang ideal untuk menampung 3.000 orang. Di dalam kawasan yang bernama Grand Kawanua International City ini juga dibangun hotel dan beragam fasilitas lain, seperti pusat perbelanjaan dan lapangan golf. Perumahan juga dibangun di sekitar area ini.

Widijanto, yang juga Managing Director PT AKR Land Development, mengatakan, investasi awal yang dikucurkan perusahaannya tahun 2009 mencapai Rp 300 miliar. Pemerintah juga mengucurkan Rp 2 triliun untuk pembangunan aneka infrastruktur, seperti jalan, jaringan telepon, dan listrik. Awalnya semua dipersiapkan untuk WOC.

Pembangunan terus dilanjutkan hingga kini, terutama untuk menyempurnakan fasilitas yang tidak sempat diselesaikan tahun 2009. Pemda juga berencana membangun jalan tol yang menghubungkan Manado dan Bitung. Bitung merupakan kota pelabuhan penting di Sulawesi Utara.

Investasi besar itu memicu pertumbuhan kota dan pendapatan warga. Perbaikan infrastruktur ini membuat ekonomi Manado bergerak. Fasilitas pariwisata ditingkatkan. Begitu pula dengan pembangunan fasilitas penunjang seperti tempat penjualan oleh-oleh dan suvenir.

Geliat MICE di Sulawesi Utara membuat efek domino yang dirasakan banyak pihak, termasuk masyarakat sekitar. Dari data yang dihimpun Badan Pariwisata Sulawesi Utara, angka keterisian kamar hotel berbintang di Sulawesi Utara mencapai 52,91 persen pada 2013, naik dari 48,69 persen tahun 2009.

Pendapatan domestik regional bruto per kapita di Sulawesi Utara juga melonjak dari Rp 17,149 juta tahun 2009 menjadi Rp 22,872 juta pada 2013.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sulawesi Utara Happy TR Korah mengatakan, dalam setahun terakhir ada sekitar 60 kegiatan yang dilaksanakan di Sulawesi Utara, terutama Manado dan Tomohon.

Direktur Pemasaran dan Promosi Badan Pariwisata Sulawesi Utara Ika Sastrosoebroto mengatakan, wisatawan MICE umumnya menghabiskan separuh waktu untuk acara formal dan sisanya untuk berwisata.

”Karena itu, kota yang siap untuk MICE tak hanya dituntut untuk menyediakan akomodasi dalam jumlah besar. Yang tidak kalah pentingnya adalah kesiapan tempat wisata untuk tujuan peserta MICE itu,” ujarnya.
Perlu pembenahan

Pesatnya pertumbuhan Manado bukan tanpa kritik. Sejumlah fasilitas yang dibangun untuk mempersiapkan WOC 2009 kini rusak. Salah satunya adalah halte-halte bus yang kini tidak terpakai lagi.

Selain itu, penataan koneksi antarmoda angkutan di Bandara Sam Ratulangi masih perlu dilakukan. Kini orang yang tiba di bandara itu masih direcoki dengan tawaran sopir taksi yang menggerombol di pintu keluar kedatangan.

Sebagai kota MICE, ketersediaan bus berstandar khusus juga perlu ditingkatkan. Hal ini penting untuk menjamin kenyamanan dan ketepatan waktu perpindahan wisatawan dalam jumlah besar dari satu tempat ke tempat lain.

Penyediaan informasi lokasi wisata, cara menuju ke tempat wisata, dan estimasi waktu tempuh itu juga masih perlu diperbanyak untuk memudahkan wisatawan.

Namun, banyak juga pengelolaan lokasi wisata yang sudah baik. Di banyak tempat wisata atau restoran, pengunjung bisa mendapat informasi lengkap tentang produk dan harganya sebelum memutuskan berwisata atau makan di tempat itu.

Bagi wisatawan perorangan atau kelompok kecil, angkutan perkotaan atau persewaan mobil masih tersedia dan memungkinkan untuk mobilitas di Manado dan kota sekitarnya.

Manado dan Sulawesi Utara dengan beragam tempat tujuan wisata andalan dan kekayaan kulinernya memiliki potensi sebagai kota MICE besar. Apalagi, kemacetan di kota ini belum separah di Jakarta sehingga mobilitas orang lebih terukur. (Agnes Rita Sulistyawaty)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000010465690

Related-Area: