BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Bunaken Jadi Magnet Turis Tiongkok

PARIWISATA
Bunaken Jadi Magnet Turis Tiongkok
Ikon konten premium Cetak | 25 Februari 2016 Ikon jumlah hit 23 dibaca Ikon komentar 0 komentar

MANADO, KOMPAS — Taman Laut Nasional Bunaken di Sulawesi Utara menjadi magnet ribuan turis Tiongkok berkunjung ke Manado saat liburan Imlek. Sebagian dari mereka meminta waktu dua hari menyelam dan berenang di Laut Bunaken dengan waktu libur lima hari. Meskipun demikian, Bunaken harus tetap dibenahi terkait transportasi dan kebersihan.

Marthen Hong, penerjemah turis Tiongkok, di Manado, Rabu (24/2), mengatakan, wisata bawah Laut Bunaken dengan dinding karang raksasa sangat menarik minat wisatawan Tiongkok dan Hongkong untuk berkunjung ke lokasi itu setiap tahun. Para turis Tiongkok yang berasal dari kota Chengdu, Provinsi Shicuan, sangat menyukai wisata laut dan pantai. Mereka ke Manado menggunakan pesawat carter.

Marthen mengatakan, empat kali ke Bunaken dalam sepekan, dirinya mengantar turis Tiongkok dan Hongkong saat liburan Imlek. "Bunaken mudah dijangkau, tetapi kita harus menunggu perahu yang aman dan murah," kata Marthen. Biaya sewa perahu motor ke Bunaken yang lebih dari Rp 1 juta, katanya, terlalu mahal.

Agen perjalanan wisata Star Expres, Steven, mengatakan, para turis Tiongkok ke Manado merasa puas dan menyatakan keinginan untuk datang lagi. Pertengahan April nanti, sebanyak 400 turis Tiongkok dari Guangzhao akan ke Manado menggunakan tiga pesawat carter.

Kepala Dinas Pariwisata Sulut Happy Korah mengatakan, kunjungan wisatawan asing ke Sulut pada 2015 sekitar 36.000 orang, naik dari target kunjungan pemerintah provinsi. Ia optimistis angka kunjungan wisman, terutama dari Tiongkok, akan meningkat apabila anggaran promosi dan perbaikan infrastruktur ditambah.

"Kami masih mengandalkan wisata laut dan diving. Orang Tiongkok senang pantai dan laut, obyek wisata itu saja yang fokus untuk didanai," ujar Happy Korah.

Dia mengatakan, anggaran promosi dalam APBD Sulut tahun 2016 sebesar Rp 200 juta, menurun ketimbang pada 2015 yang Rp 900 juta. Dana itu sangat minim untuk mengembangkan pariwisata. Dana itu untuk membenahi situs (website) pariwisata Sulut dan media sosial.

Menurut dia, berdasarkan catatan kunjungan wisatawan asing, banyak wisatawan asing yang mengeluh soal infrastruktur jalan ke obyek wisata yang sempit, kebersihan, dan pelayanan. Turis Tiongkok mengeluhkan layanan imigrasi di Bandara Sam Ratulangi yang terlalu lama.

Di Jawa Tengah, para pelaku wisata berharap nanti ada jalan tembus dari bandara baru yang akan dibangun di Kulon Progo, DI Yogyakarta, menuju ke Candi Borobudur di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Jalan penghubung itu diharapkan mampu meningkatkan kunjungan wisatawan ke Borobudur. (zal/who)

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2016/02/25/Bunaken-Jadi-Magnet-Turis-Tiongkok

Related-Area: