BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Bertumpu pada Sektor Kelautan

KOTA TUAL
Bertumpu pada Sektor Kelautan
Fransiksus P Herin
Ikon konten premium Cetak | 4 Juli 2015

Studi banding ke Kota Palu, Sulawesi Tengah, tahun 2011, menjadi masukan berharga bagi Pemerintah Kota Tual, Maluku, dalam mencari format pemberdayaan masyarakat yang tepat. Pemanfaatan potensi kelautan dan perikanan di daerah yang terdiri atas pulau-pulau itu menjadi fokus utama.

KOMPAS/FRANSISKUS PATI HERINSawal Serang (52), warga Desa Leebetawi, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, Provinsi Maluku, merupakan salah satu pelaku Program Pemberdayaan Masyarakat Maren (P2MM). Sawal memilih usaha pembuatan fiberglass.

Sawal Serang (52), penduduk Desa Leebetawi, Kecamatan Dullah Utara, Tual, merasakan dampak dari program pemberdayaan yang oleh Pemerintah Kota Tual dikemas dengan sebutan Program Pemberdayaan Masyarakat Maren (P2MM). Dalam program itu, warga bebas mengusulkan usaha yang dinginkan. Sawal memilih pembuatan fiberglass.

Saat ditemui beberapa waktu lalu, ia baru saja merampungkan satu unit perahu motor fiberglass berukuran panjang 9 meter, lebar 1,5 meter, dan tinggi 0,8 meter. Dengan harga jual sekitar Rp 21 juta, ia bakal meraup untung sebesar Rp 11 juta setelah dikurangi biaya produksi Rp 10 juta. Jika perahu motor itu dibeli dari perusahaan pembuatan fiber, harga paling murah Rp 25 juta.

Kini Sawal mahir membuat barang dari fiberglass. Jika sebelumnya ia menghabiskan waktu hampir satu bulan untuk menyelesaikan satu unit kapal, kini tidak lebih dari sepekan perahu fiberglass siap digunakan.

Pembuatan perahu motor fiberglass, adalah industri rumah tangga dengan prospek menjanjikan, sebab bisa dimanfaatkan sebagai sarana nelayan dan juga transportasi di daerah yang terdiri atas 66 pulau, dengan 13 pulau di antaranya berpenghuni itu. Luas keseluruhan Kota Tual adalah 19.088,29 kilometer persegi yang didominasi laut, yang luasnya tak kurang dari 18.736 km atau 98,15 persen.

Perahu itu bisa mengangkut hasil tangkapan dengan bobot hingga 1 ton. Jika dipasang mesin berkekuatan 40 tenaga kuda (PK), perahu itu mampu menghadang gelombang yang tingginya hingga 4 meter. Di Maluku, wilayah perairan yang paling sering dilanda gelombang tinggi, adalah Maluku bagian tenggara, termasuk Kota Tual.

Selain pembuatan perahu fiberglass, potensi perairan di Kota Tual juga sangat cocok untuk budidaya rumput laut. Hampir 5.000 orang dari total 64.032 jiwa penduduk di Kota Tual, bergerak pada usaha itu.

Menurut Kepala Desa Leebetawi, S Renleew, hampir semua dari 173 keluarga di desa itu memiliki "lahan" di laut. "Hasil dari penjualan rumput laut digunakan untuk biaya pendidikan anak-anak. Sekarang banyak yang kuliah. Kalau dulu, sekitar lima tahun lalu, paling tinggi tamat SMA saja," katanya.
content

Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Tual Fahry Rahayaan menambahkan, P2MM pun perlahan memberikan dampak berarti pada pendapatan masyarakat. Selain budidaya rumput laut dan pembuatan fiberglass, penerima manfaat program itu juga adalah pelaku usaha perikanan tangkap dan perikanan budidaya.

Untuk P2MM, Pemkot Tual mengalokasikan anggaran Rp 2,8 miliar tahun 2012; meningkat menjadi Rp 4 miliar tahun 2013 dan 2014; serta tahun 2015 senilai 3 miliar. "Masuknya dana desa tahun ini sangat membantu pemberdayaan masyarakat, terutama untuk penambahan modal," ujarnya.

Sejak program itu bergulir tahun 2012, sebanyak 27 desa dan 3 kelurahan yang tersebar di 5 kecamatan di Kota Tual sudah merasakan manfaatnya. Produksi perikanan tangkap dan perikanan budidaya pada 2012 sebesar 40.426,30 ton meningkat menjadi 50.274,67 ton tahun lalu. Produksi rumput laut tahun 2012 sebesar 133 ton meningkat menjadi 196 ton tahun 2014.

Menurut Jony Johan, konsultan P2MM, pemerintah harus menyiapkan pasaran bagi produksi kelautan dan perikanan untuk menghindari permainan tengkulak. Harga rumput laut kering kini turun hingga Rp 9.000 per kg. Sebelumnya, harganya sampat melambung hingga Rp 20.000 per kg.

Untuk pengentasan masyarakat dari kemiskinan, Jony menambahkan, tak cukup hanya mengharapkan peran pemerintah, tetapi juga partisipasi masyarakat. "Masyarakat sudah berani menyampaikan usulan kegiatannya. Ini menjadi tanda dampak program pemberdayaan itu terasa," ungkap Jony.

Berkah moratorium

Location Qoention untuk sektor kelautan dan perikanan di Tual meningkat sebesar 1,57 pada 2007 menjadi 1,6 tahun 2013. Artinya, ada kelebihan produksi, sehingga Tual bisa jadi lumbung bagi daerah lain.

Industri perikanan di kawasan itu juga tumbuh, yang ditandai dengan kehadiran perusahaan perikanan, seperti PT Maritim Timur Jaya yang belakangan berhenti beroperasi setelah adanya perubahan regulasi di tingkat pusat. Perusahaan pengolahan rumput laut juga dibangun pemerintah, dan sedang menanti tahap pengoperasian.

Saat ini, Maluku digadang-gadang menjadi lumbung ikan nasional. Jika hal itu terwujud, Tual bisa menjadi titik sentral pelaksanaan program itu, sebab letaknya yang strategis. Tual bisa diandalkan, karena memiliki pelabuhan dengan fasilitas lengkap, yakni Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN). Ketimbang Ambon, Tual lebih dekat dengan Laut Banda dan Laut Arafura yang terkenal kaya dengan ikan.

Kepala PPN Tual SMC Jaftoran mengakui, masih terjadi pencurian ikan di daerah itu. "Kami mensyukuri kebijakan pemerintah pusat, sehingga usaha perikanan bisa ditata. Ini berkah untuk Tual," ujarnya.

Dalam 8 tahun terakhir, PPN Tual sepi. Tidak ada kapal yang sandar sehingga aktivitas ekonomi di pelabuhan mati total. Padahal sebelumnya, perputaran uang di pelabuhan itu mencapai Rp 5 miliar per hari.

Pitjont Tomatala, pengajar pada Program Studi Teknologi Budidaya Perikanan Politeknik Perikanan Negeri Tual mengemukakan, perlu kerja sama yang erat antara akademisi dan pemerintah untuk mengoptimalkan potensi Tual.

Sumber: http://print.kompas.com/baca/2015/07/04/Bertumpu-pada-Sektor-Kelautan

Related-Area: