BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Banjir Sulawesi Utara Rumah Korban Akan Diganti

Banjir Sulawesi Utara
Rumah Korban Akan Diganti

MANADO, KOMPAS — Pemerintah akan mengganti rumah warga yang hancur dan rusak akibat banjir bandang di Sulawesi Utara. Model pemberian ganti rugi ketika terjadi gempa di Daerah Istimewa Yogyakarta dapat menjadi acuan.

”Saya setuju, mereka (korban) harus kembali ke rumah. Ini adalah prioritas yang harus kita selesaikan dalam waktu dekat sehingga mereka bisa hidup normal di rumah dibandingkan di pengungsian,” kata Wakil Presiden Boediono, Selasa (21/1), di Manado, Sulut.

Hal itu disampaikan Boediono menanggapi pemaparan kondisi bencana oleh Gubernur Sulut Sinyo Harry Sarundajang. Wapres mengunjungi lokasi bencana dengan didampingi, antara lain, Wakil Menteri Pekerjaan Umum Hermanto Dardak.

Menurut Wapres, pola pemberian ganti rugi atas rumah yang hancur atau rusak akibat banjir bisa mengikuti model di Yogyakarta. Tahun 2006, ribuan rumah di Kabupaten Bantul, DIY, hancur atau rusak akibat gempa. Empat tahun kemudian, ribuan rumah rusak akibat erupsi Gunung Merapi. ”Pengalaman di Yogyakarta bagus. Masyarakat dan pemerintah daerah sangat bagus koordinasinya. Namun, jika pola Yogyakarta kita ambil, pendataannya harus tepat. Jangan bergeser-geser,” ujarnya.

Menurut Sarundajang, saat ini diperlukan kecepatan perbaikan dan pembangunan rumah layak huni. Ia mengusulkan pola pemberian ganti rugi mengikuti pola di Yogyakarta. ”Penggantian bagi rumah yang hilang diterjang banjir adalah Rp 50 juta, rusak berat Rp 30 juta, dan rusak sedang Rp 25 juta. Tanah disediakan pemda,” katanya lagi.

Boediono mendatangi perkampungan di bantaran Sungai Tondano, Kelurahan Komo Luar, Manado. Ratusan rumah dipenuhi lumpur akibat banjir yang merendam hingga kedalaman lebih dari 4 meter, pekan lalu.

Warga kampung sibuk membersihkan rumah. Tumpukan barang rusak, seperti kursi, pecahan genteng, bongkahan beton, dan lemari, ditumpuk di jalan kampung yang dilalui Wapres. Bau kurang sedap pun merebak.

Wapres juga mendatangi jembatan yang hancur di Kelurahan Dendengan Dalam, Manado. Jembatan di atas Sungai Tondano itu hancur diterjang banjir.

Boediono mengingatkan, pada masa depan, penataan daerah aliran sungai (DAS) harus mendapat perhatian besar. Perlu ketegasan untuk memastikan DAS tertata baik sehingga ancaman banjir bisa dikurangi.

Sarundajang menyatakan, sebelum banjir terjadi, hujan deras melanda Manado dan Kabupaten Minahasa. Angka curah hujan itu lebih dari 200 milimeter. Curah hujan normal hanya 50 milimeter.

Sementara itu, ratusan kendaraan yang terjebak di Kilometer 14-15 Jalan Raya Manado-Tomohon, Selasa, dievakuasi. Kendaraan itu bisa diambil pemiliknya menyusul selesainya pembangunan jembatan bailey di Kilometer 14. Namun, jalur lalu lintas Manado-Tomohon belum sepenuhnya pulih.(ZAL/APO/ENG/ATO)

Sumber: http://print.kompas.com/KOMPAS_ART0000000000000000004294743