BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Presiden Jokowi Gandeng Australia Mengembangkan Ekosistem Kendaraan Listrik

Presiden Jokowi dan PM Australia Anthony Albanese menyepakati untuk memperkuat kerja sama di sektor perdagangan hingga pengembangan ekosistem kendaraan listrik. Australia pun mendukung kerja sama pertahanan kedua negara.

Oleh NINA SUSILO

JAKARTA, KOMPAS – Presiden Joko Widodo dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese sepakat untuk terus menguatkan kerja sama kedua negara. Selain mendorong pengembangan ekosistem kendaraan listrik dan perdagangan, Indonesia dan Australia memprioritaskan kerja sama di sektor energi bersih.

Kunjungan Presiden Joko Widodo ke Australia, Selasa (4/7/2023), menjadi kunjungan balasan setelah PM Albanese melakukan kunjungan resmi ke Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada 6 Juni 2022. Presiden Jokowi disambut Gubernur Jenderal Australia David Hurley dengan upacara kenegaraan di Admiralty House, Sydney, Selasa pagi. Setelah itu, PM Albanese mengajak Presiden berkeliling di Admiralty House serta menyeberang ke Dermaga Taronga Zoo menggunakan kapal dari Dermaga Admiralty House. Di Taronga Center, yang berlokasi di dalam Taronga Zoo, pertemuan tahunan pemimpin Indonesia-Australia (Annual Leaders Meeting) digelar.

Dalam pertemuan tersebut, Presiden Jokowi didampingi Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan, Menteri Investasi/Kepala BKPM Bahlil Lahadalia, dan Duta Besar RI untuk Australia Siswo Pramono.

Dalam keterangan bersama, Presiden Jokowi menyampaikan terima kasih atas sambutan hangat serta mengapresiasi kemajuan yang telah terjadi setahun ini. Presiden juga menyampaikan beberapa prioritas yang akan dikerjakan Indonesia-Australia ke depan.

”Pertama, Indonesia dan Australia harus membangun kerja sama ekonomi yang lebih substantif dan strategis melalui pengembangan bersama produksi baterai EV (kendaraan listrik),” ujarnya.

Kedua, Presiden mengapresiasi kenaikan volume perdagangan kedua negara sejak persetujuan kemitraan ekonomi komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) diberlakukan. Kenaikan volume disebutnya mencapai 90 persen dan akan terus dioptimalkan. Untuk itu, akan diterapkan perjanjian saling mengakui (mutual recognition agreement) produk perikanan, karantina dan inspeksi buah-buahan, serta peningkatan kapasitas usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

Ketiga, lanjut Presiden, terkait pengurangan emisi karbon, Indonesia dan Australia akan fokus mendorong pembangunan carbon capture and storage serta smelter yang berorientasi energi hijau di Indonesia.

Terkait pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN), Indonesia mendorong sektor swasta Australia dan Nasional Capital Authority Australia untuk bekerja sama dengan Otoritas IKN.

PM Albanese dalam keterangannya juga memastikan komitmen kerja sama lebih erat antara Indonesia dan Australia. ”Kami berdua sama-sama menginginkan kerja sama yang lebih erat, baik sebagai mitra ekonomi, mitra pertahanan, mitra di transisi global menuju net zero,” ucapnya.

Setelah tiga tahun Kesepakatan Perdagangan Bebas (Free Trade Agreement) bilateral antara Indonesia dan Australia, menurut Albanese, perdagangan kedua negara sudah kembali pulih. Bahkan, beberapa tahun terakhir perdagangan kedua negara menjadi lebih kuat ketimbang masa-masa lalu. Dua tahun terakhir ini, menurut Albanese, ada kenaikan 37 persen. Tahun 2022, perdagangan barang jasa kedua negara mencapai 23,3 miliar dollar AS.

”Tapi masih banyak yang bisa kita lakukan sehingga tahun lalu saya commit untuk merevitalisasi hubungan perdagangan dan investasi kedua negara dengan membawa investor institusi bersama dan menghubungkan pemimpin bisnis Australia,” ujarnya.

PM Albanese dalam keterangannya juga memastikan komitmen kerja sama lebih erat antara Indonesia dan Australia.

Untuk mendukung perluasan bisnis dan hubungan komersial, lanjutnya, warga Indonesia akan mendapatkan akses pada visa bisnis yang diperluas dari tiga menjadi lima tahun. Pemilik paspor elektronik (e-passport) Indonesia juga mendapat prioritas untuk mengakses Smart Gates Australia.

Warga Indonesia juga bisa mengakses frequent travellervisa yang menawarkan validitas visa 10 tahun. ”Ini memberi perbedaan luar biasa dan menyingkirkan halangan birokrasi pada hubungan yang lebih dekat ke depan,” tambah Albanese.

Kemajuan lain ada pada proses pengurusan visa. Rata-rata pengurusan visa pengunjung dari Indonesia 60 hari pada Juni 2022 menjadi tujuh hari saja pada Mei 2023. Rata-rata pengurusan visa bisnis saat ini hanya tiga hari.

Selain itu, dalam program kemitraan terkait iklim dan infrastruktur Indonesia-Australia, pada tahun 2022 saat berkunjung ke Indonesia, PM Albanese menyampaikan akan memberikan 200 juta dollar AS. ”Hari ini saya mengumumkan bahwa pembiayaan tahap pertama (senilai) 50 juta dollar AS akan digunakan untuk investasi pada start up (usaha rintisan) dan UMKM yang memberi manfaat bersama dari transisi energi Indonesia dan sektor teknologi energi bersih,” katanya.

PM Albanese menambahkan, ada banyak yang bisa ditawarkan Australia kepada Indonesia dan kawasan terkait transisi energi, termasuk gerakan global menuju kendaraan listrik. ”Kami kaya dengan komponen dan keahlian yang diperlukan terkait energi baru terbarukan. Presiden dan saya sangat terbuka untuk kerja sama yang terus tumbuh pada area ini, termasuk MOU yang sudah ditandatangani antara Pemerintah Australia Barat dan Kadin,” tuturnya.

Terkait kerja sama pendidikan, PM Albanese menyebut beberapa inisiatif baru disepakati untuk mendukung mobilitas profesional, meningkatkan kapasitas karyawan, dan membangun literasi Indonesia-Australia. Untuk itu, dia mengumumkan tiga perguruan tinggi Australia akan membuka kampus di Indonesia. Ketiganya adalah Western Sydney University, Deakin University, dan Central Queensland University. Ini mengikuti Monash University yang sudah lebih dulu membuka kampus di Indonesia.

Kerja sama pertahanan
Dalam isu keamanan dan kedamaian kawasan, Presiden Jokowi menegaskan, posisi Indonesia dan ASEAN sangat jelas, yakni menginginkan Indo-Pasifik menjadi kawasan yang damai dan stabil. Karena itu, kolaborasi dan kerja sama konkret perlu dikedepankan.

PM Albanese menyampaikan dukungannya pada kerja sama pertahanan Indonesia-Australia seperti dituangkan dalam Lombok Treaty yang ditandatangani pada 2006. ”Presiden dan saya juga menyambut baik kesepakatan Menteri Pertahanan kami Februari lalu yang meningkatkan kerja sama pada level treaty agreement. Dan, seperti saya sampaikan dalam keynote speech di Shangri-La Dialogue di Singapura, bulan lalu, semua negara di kawasan, baik besar maupun kecil, memiliki tanggung jawab kolektif untuk menjaga kawasan damai dan kontribusi Indonesia dalam menjaga kedamaian kawasan, di bawah kepemimpinan Presiden, sudah kuat,” tuturnya.

PM Albanese juga memuji kepemimpinan Presiden Jokowi di G20 tahun lalu. Tahun ini, sebagai Ketua ASEAN, PM Albanese menyatakan Australia akan kembali mendukung prioritas-prioritas Indonesia. ”Untuk itu, saya menantikan menyambut Anda kembali Maret mendatang saat saya menjadi tuan rumah ASEAN-Australia Special Summit,” ujarnya.

PM Albanese dan Presiden Jokowi sebelumnya juga akan bertemu di KTT ASEAN di Jakarta pada September serta di KTT G20 di New Delhi, India, pada bulan yang sama.

Presiden Jokowi mengapresiasi dukungan Australia pada keketuaan Indonesia di ASEAN. Presiden juga mengajak Australia untuk memperkuat kemitraan di Pasifik Selatan melalui kerja sama trilateral dan berpartisipasi dalam ASEAN Indo-Pacific Forum. ”Terakhir, saya menantikan kehadiran Perdana Menteri Albanese di Jakarta bulan September tahun ini,” ucap Presiden Jokowi.

Presiden Jokowi mengapresiasi dukungan Australia pada keketuaan Indonesia di ASEAN.

Di sela-sela kunjungan kenegaraan kepada Gubernur Jenderal Australia dan Annual Leaders Meeting, Presiden Jokowi juga bertemu dengan Ketua Oposisi Australia Peter Dutton di Admiralty House, Sydney. Dalam pertemuan tersebut, Presiden menyebut Australia merupakan sahabat sekaligus mitra strategis Indonesia dan ASEAN.

”Sejak implementasi Indonesia-Australia CEPA tiga tahun lalu, hubungan kedua negara saat ini sangat kuat. Perdagangan naik 90 persen, investasi juga naik 50 persen, dan berbagai kemajuan kerja sama lainnya,” kata Presiden.

Oleh karena itu, Presiden mengharapkan dukungan Ketua Oposisi Peter Dutton agar kerja sama ekonomi di antara kedua negara lebih substantif dan lebih strategis di masa depan, termasuk kerja sama pengembangan industri baterai kendaraan listrik.

Presiden juga berharap ada peningkatan kerja sama Indonesia dan Australia di Pasifik, antara lain melalui kerja sama trilateral.

Editor:
MADINA NUSRAT

Sumber: https://www.kompas.id/baca/internasional/2023/07/04/presiden-jokowi-gandeng-australia-mengembangkan-ekosistem-kendaraan-listrik

Related-Area: