BEKERJA DAN BERBAKTI UNTUK KEMAJUAN KTI

Masyarakat Terlibat, Hasil Belajar Murid Meningkat

Monday, Dec 10, 2018 Author: Sharon Kanthy Co-author: Hera Diani Setiawan Cahyo Nugroho

Talkshow KIAT Guru (Makassar, 24/10) bertema Masyarakat Terlibat Hasil Belajar Murid Meningkat pada acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia.

Program KIAT Guru berbagi pengalaman pemberdayaan masyarakat untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar di daerah sangat tertinggal lewat talkshow dan pameran di Festival Forum Kawasan Timur Indonesia (Forum KTI) VIII. Festival Forum KTI yang berlangsung di Makassar pada 24-25 Oktober 2018 ini bertujuan mengangkat praktik-praktik cerdas dan inovasi pembangunan lokal dari kawasan timur Indonesia untuk pembangunan berkelanjutan di Indonesia.

 

Talkshow ini dihadiri 147 peserta dari perwakilan masyarakat, pemerhati pendidikan, pemerintah daerah dan mitra pembangunan lainnya. Dalam kegiatan ini peserta dari Sulawesi Selatan, Papua dan Papua Barat menyampaikan ketertarikannya untuk juga menerapkan mekanisme pemberdayaan masyarakat KIAT Guru di lokasi mereka.

 

 

Talkshow KIAT Guru (Makassar, 24/10) bertema Masyarakat Terlibat Hasil Belajar Murid Meningkat pada acara Festival Forum Kawasan Timur Indonesia.

 

Kelompok Pengguna Layanan Dorong Peningkatan Kinerja Guru dan Hasil Belajar Murid

Dengan mengangkat tema 'Masyarakat Terlibat, Hasil Belajar Murid Meningkat', diskusi ini menghadirkan narasumber yang berperan besar dalam melaksanakan Program Rintisan KIAT Guru, yaitu perwakilan Kelompok Pengguna Layanan (KPL), kepala sekolah, serta pemerintah daerah.

“Anggota KPL bergiliran melakukan observasi serta mengecek dokumen terkait kegiatan belajar di sekolah. Kami memiliki tujuh prinsip pokok dalam menjalankan tugas kami, yaitu sukarela, akuntabilitas, transparansi dalam menilai, mandiri, profesional, proporsionalitas atau bekerja sesuai tupoksi yang diberikan, dan kerja sama,” ujar Alfiana Pamut, seorang tokoh perempuan yang dipilih dan dipercayai oleh masyarakat untuk memimpin KPL di Desa Compang Necak, Manggarai Timur.

Mewakili pihak guru, Elfrida, Kepala Sekolah SDN Bea Nanga di Manggarai Timur, menekankan peran sekolah dalam memberdayakan masyarakat di desanya. “Di awal, KPL pasti sungkan. Tapi pihak sekolah harus mendukung KPL untuk mengevaluasi para guru, dan guru harus mau terbuka dan ikhlas untuk dinilai oleh KPL agar guru juga terbantu dalam mengidentifikasi kekurangan dari layanannya kepada anak didik.”   

Kerjasama dan keterbukaan ini turut meningkatkan kinerja para guru dan belajar murid.

“Sekarang guru hadir dan menjalankan janji layanannya untuk menggunakan media pembelajaran sehingga murid semakin semangat belajar. Hubungan guru dan murid pun membaik karena adanya janji layanan untuk tidak menggunakan kekerasan di sekolah,” ujar Alfiana.

Beberapa bulan yang lalu, saya memandu para masyarakat untuk melaksanakan Tes Cepat dan kami juga dapat melihat secara nyata bahwa prestasi murid semakin meningkat,” tambahnya.

Elfrida menambahkan bahwa janji layanan guru yang disepakati bersama masyarakat berkontribusi pada keberhasilan program rintisan. “Janji layanan guru yang disepakati bersama masyarakat beserta penggunaan KIAT Kamera untuk merekam kehadiran guru di sekolah membuat guru lebih rajin dan kreatif dalam memberikan pembelajaran yang menyenangkan kepada muridnya.”

Alfiana memaparkan lebih lanjut bahwa masyarakat kini semakin menyadari peran mereka dalam perkembangan pendidikan anak mereka.

“Orang tua sekarang sudah mengetahui bahwa mereka memiliki hak untuk terlibat dalam pengawasan pelaksanaan pendidikan sebagaimana tercantum pada UU No 20 Tahun 2003. Kesadaran membuat orang tua menjadi percaya diri saat melakukan penilaian terhadap layanan guru di sekolah kami,” ceritanya.

 

Komitmen dan Tantangan dalam Replikasi Program Rintisan KIAT Guru

Samsul Widodo, Direktur Jenderal Pembangunan Daerah Tertinggal (Dirjen PDT), Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), dalam arahannya ketika membuka diskusi, menyampaikan agar Program KIAT Guru didiseminasi ke kabupaten-kabupaten tertinggal lainnya.

Beliau menyampaikan, “Secara khusus, praktik baik dalam menerapkan Dana Desa untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat di pendidikan perlu ditularkan ke desa-desa lainnya. Saat ini, Kemendesa PDTT bersama TNP2K dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan sedang menjajaki proses replikasi tersebut khususnya dalam mencari cara agar dana desa dapat digunakan untuk mendukung pemberdayaan masyarakat.”

Kartiyus, Kepala Bappeda Kabupaten Sintang, menyimpulkan bahwa Program Rintisan KIAT Guru telah mendukung kabupatennya dalam hal:

●  Menyiapkan seluruh Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan pelaku tingkat desa/ sekolah untuk pelaksanaan secara mandiri sehingga membuat Pemerintah Daerah percaya diri untuk melakukan replikasi.
●  Membantu Pemerintah Daerah dalam menemukan model yang tepat untuk mengaitkan pemberdayaan masyarakat dengan peningkatan kinerja Aparatur Sipil Negara, khususnya guru.
●  Sesuai dengan visi dan misi Bupati untuk mencerdaskan anak.
 

“Di Sintang, Pemerintah Daerah di tahun 2019 telah siap dengan APBD dan APBDes untuk replikasi Program KIAT Guru secara mandiri di 60-an Sekolah Dasar di desa sangat tertinggal,” ujarnya.

KPL Alfiana menyatakan, “Pemerintah Desa sekarang sangat peduli. Perwakilan desa pun hadir dalam pertemuan penilaian bulanan dan mendanai kegiatan KPL sejumlah 20 juta rupiah di tahun 2018 ini.”

Martinus, perwakilan dari Dinas Pemberdayaan Masyakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Manggarai Timur, menegaskan bahwa KIAT Guru telah menjadi model bagi pengembangan pemberdayaan masyarakat dengan memanfaatkan Dana Desa. Martinus lebih lanjut menjelaskan bahwa wewenang untuk menganggarkan Dana Desa untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat sebenarnya sudah tercantum di Undang-Undang Desa. Namun, desa-desa perlu dibimbing oleh DPMD dalam menemukan model yang tepat dalam pemberdayaan masyarakat.

Di akhir talkshow, Elfrida menyampaikan bahwa tidak ada halangan berarti untuk dapat memberikan pendidikan terbaik bagi anak-anak. “Kalau kita komitmen, pasti jadi! Apapun sekolahnya, situasinya, kondisinya.”

Program Rintisan KIAT Guru bertujuan untuk meningkatkan kualitas layanan pendidikan di daerah sangat tertinggal melalui pemberdayaan masyarakat dalam menilai layanan guru dan dikaitkannya pembayaran Tunjangan Khusus Guru dengan kehadiran guru atau kualitas layanan guru. Program ini merupakan kolaborasi antara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Tim Nasional Percepatan Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) dan lima pemerintah kabupaten PDT: Manggarai Barat dan Manggarai Timur di Nusa Tenggara Timur, serta Sintang, Landak dan Ketapang di Kalimantan Barat. Program ini diimplementasikan oleh Yayasan BaKTI, dengan dukungan teknis dari World Bank dan pembiayaan dari Pemerintah Australia dan USAID.

 

Sumber: https://www.localsolutionstopoverty.org/id/story/festival-forum-kti-2018-belajar-dari-kiat-guru-tentang-masyarakat-terlibat-hasil-belajar